Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah Akibat Kenaikan Harga Minyak Global

Pelemahan rupiah ke level Rp18.074 per dolar AS dipicu lonjakan harga minyak akibat ancaman serangan drone dan rudal dari kelompok Houthi ke infrastruktur minyak Arab Saudi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 12.00 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 32x dibuka
Rupiah Melemah Akibat Kenaikan Harga Minyak Global📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami penurunan pada awal perdagangan Jumat, mencapai Rp18.074 per dolar AS, melemah 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Pergerakan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak global, yang berdampak langsung terhadap pasar keuangan di kawasan. Kenaikan harga komoditas energi menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan mata uang lokal.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh pernyataan kelompok Ansarullah Yaman yang mengumumkan rencana menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam. Serangan drone terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco pada Kamis (22/10) memperparah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent melonjak menjadi 111,40 dolar AS per barel, naik 2,4 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai 99,30 dolar AS per barel, naik 2,22 persen.

Ketegangan regional juga diperkuat dengan keputusan Amerika Serikat yang meminta sebagian personel diplomatik dan keluarga mereka untuk meninggalkan misi di Arab Saudi. Selain itu, Ansarullah melancarkan empat serangan drone dan rudal dalam 48 jam terakhir, menyerang kantor Kementerian Pertahanan Saudi di Riyadh, Bandara King Fahd di Dammam, fasilitas milik Saudi Aramco di Yanbu, serta Bandara Abha di wilayah barat daya. Juru bicara militer kelompok tersebut, Yahya Sarea, menyatakan semua target mengalami kerusakan langsung, termasuk kebakaran di fasilitas minyak dan gangguan lalu lintas udara.

Di pasar obligasi, pergerakan imbal hasil beragam pada perdagangan Kamis (22/10). Obligasi pemerintah tenor 5 tahun naik ke 7,25 persen, bertambah 41 basis points, sementara tenor 10 tahun turun tipis menjadi 7,42 persen. Sementara itu, kepemilikan asing atas obligasi pemerintah turun sebesar Rp3,66 triliun menjadi Rp914 triliun per Rabu (21/10), atau setara dengan 13,02 persen dari total beredar. Volume perdagangan juga menyusut menjadi Rp18,28 triliun, lebih rendah dari Rp24,39 triliun pada sesi sebelumnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya