Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah di Tengah Tekanan Geopolitik dan Pasar Modal

Nilai tukar rupiah mencapai Rp17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026, terpengaruh ketegangan geopolitik dan sentimen pasar saham, sementara BI berupaya menjaga stabilitas melalui insentif investasi asing.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 09.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 51x dibuka
Rupiah Melemah di Tengah Tekanan Geopolitik dan Pasar Modal📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada 20 Oktober 2026 berada pada posisi Rp17.985 per dolar AS, menunjukkan penurunan sebesar 0,61 persen dibandingkan akhir bulan sebelumnya. Pelemahan ini menjadi dampak dari berbagai tekanan eksternal, terutama eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah dan pergerakan kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung mengetat. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyebutkan bahwa sentimen pasar saham global turut memperparah tekanan terhadap mata uang nasional.

Dalam paparannya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Oktober 2026, Destry menegaskan komitmen BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui pengoptimalan berbagai instrumen moneter. Upaya ini dilakukan secara konsisten guna mengantisipasi volatilitas yang muncul dari dinamika global. Bank sentral juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi domestik.

Sebagai bagian dari strategi penjagaan stabilitas, BI memperkuat kebijakan insentif untuk menarik aliran modal asing, khususnya dalam bentuk portofolio. Insentif diberikan tidak hanya pada transaksi swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk lindung nilai, tetapi juga meluas ke transaksi mata uang lokal dengan mitra perdagangan strategis. Tujuannya agar imbal hasil aset rupiah tetap kompetitif di pasar global.

Sejak penerapan kebijakan insentif biaya lindung nilai sejak Juni 2026, hasilnya telah terukur positif. Hingga 20 Oktober 2026, aliran modal asing yang masuk melalui instrumen tersebut mencapai US$9,9 miliar. Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong kepercayaan investor dan memperkuat posisi rupiah dalam jangka menengah.

Destry memproyeksikan nilai tukar rupiah akan kembali stabil dalam waktu dekat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam target, serta prospek ekonomi domestik yang tetap kuat. Dengan langkah-langkah strategis yang terus dilakukan, BI menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya