Rupiah Melemah ke Rp17.855, Dolar AS Turun di Awal Perdagangan
Rupiah bergerak melemah ke level Rp17.855 per dolar AS pada awal perdagangan Kamis, didukung pelemahan dolar AS dan sentimen ekonomi domestik yang positif.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pada awal perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bergerak melemah ke posisi Rp17.855 per dolar AS, mengalami penurunan 0,11% dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.875. Pergerakan ini mencerminkan kembali tren penguatan yang terjadi dalam dua hari sebelumnya, namun kini kembali mengalami sedikit koreksi. Pergerakan mata uang nasional dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan data ekonomi dalam negeri yang disoroti oleh pelaku pasar.
Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat melemah sebesar 0,06% ke level 102,178, menunjukkan tekanan turun terhadap greenback. Pelemahan dolar ini mengurangi tekanan terhadap rupiah, meskipun prospek kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS tetap menjadi pertimbangan pasar. Data terbaru dari Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan mayoritas pejabat The Fed memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun 2026, sejalan dengan inflasi AS yang masih di atas target 2%.
Di dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan September 2026 oleh Bank Indonesia, yang akan dirilis pukul 10.00 WIB. Pada Agustus, IKK mencatatkan angka 118,5, naik dari 116,8 pada Juli, menunjukkan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi yang tetap stabil di atas ambang 100. Data ini dinilai penting untuk memperkirakan arah konsumsi rumah tangga, salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Proyeksi kenaikan suku bunga AS tetap menjadi faktor pemicu pergerakan aset berbasis dolar, namun pada hari ini, pelemahan dolar AS mengurangi dampak negatif terhadap rupiah. Meski demikian, keputusan The Fed tetap bersifat fleksibel dan tergantung pada perkembangan data ekonomi mendatang. Pasar tetap waspada terhadap potensi perubahan kebijakan moneter global yang bisa memengaruhi aliran modal dan nilai tukar mata uang lokal.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Anak Krakatau Naik Status Siaga, BPBD Lampung Imbau Waspada
BPBD Lampung menyatakan belum ada dampak abu vulkanik dari Anak Krakatau pasca-erupsi, tetapi masyarakat diminta waspada dan menjauhi radius lima kilometer.
10 Oktober 2026

Pemkab Batang Dorong UMKM Lokal Meluas ke Pasar Regional
Festival UMKM 2026 di Batang menampilkan 70 stan produk lokal dengan tujuan memperkuat akses pasar dan meningkatkan daya saing usaha kecil daerah.
10 Oktober 2026

Kalimantan Jadi Pusat Ekonomi Emas Tiga Negara
Kalimantan diproyeksikan menjadi superhub ekonomi Nusantara melalui kerja sama Indonesia-Malaysia-Brunei untuk mendorong transformasi dan pemerataan pembangunan.
10 Oktober 2026

Transformasi Ekonomi Sirkular Jawa Barat Dorong Pengurangan Sampah dan Emisi
Jawa Barat memperkuat strategi pengelolaan limbah melalui ekonomi sirkular dan program FLOWER untuk turunkan emisi serta tingkatkan efisiensi pangan secara nasional.
10 Oktober 2026
Berita Lainnya

Anwar Ibrahim dan Prabowo Bahas Karhutla Lintas Batas
Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.30 WITA

Polisi Dalami Keterlibatan Tiga Orang dalam Kasus Kekerasan Santriwati
Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.29 WITA

Kapolda Metro Buka Nomor WA Pribadi untuk Aspirasi Publik
Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.29 WITA

PKS Desak DPR Tindak Lanjuti Putusan MK soal Kualifikasi Gibran
Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.29 WITA

Kapolda Metro Siapkan Nomor WA Pribadi untuk Layanan Publik
Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.29 WITA

Status Kasus TPPO ABK KM Maulana 23 Naik ke Penyidikan
Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.29 WITA

MUI Minta Konser Bocelli Dibatalkan karena Dukungan pada Israel
Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.29 WITA

Presiden Mesir Tiba di Jakarta, Siap Perkuat Kerja Sama Strategis
Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.28 WITA

