Senin, 12 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.895, Tekanan Global Meningkat

Rupiah berakhir melemah 0,11% ke Rp17.895 per dolar AS pada Senin (12/10/2026), dipengaruhi tekanan global dan kekhawatiran geopolitik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 12 Oktober 2026, 23.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.895, Tekanan Global Meningkat📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami penurunan pada penutupan perdagangan awal pekan ini, kembali ke level Rp17.895 per dolar AS. Meski sempat menguat di awal hari hingga mencapai Rp17.860, mata uang nasional gagal mempertahankan kenaikannya dan justru melemah pada akhir sesi. Pergerakan harian berlangsung dalam kisaran antara Rp17.860 hingga Rp17.910, menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi.

Penyebab utama pelemahan rupiah berasal dari kekuatan dolar AS yang terus terjaga, tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang stabil di posisi 102,213. Level tersebut merupakan kenaikan signifikan dalam 18 bulan terakhir, mengindikasikan dominasi aset berdenominasi dolar dalam pasar keuangan global. Kenaikan ini didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi dan insiden serangan terhadap dua kapal di kawasan tersebut.

Kekhawatiran terhadap risiko pasokan energi menambah daya tarik dolar sebagai aset aman. Di sisi lain, pasar juga menantikan rilis data inflasi konsumen AS yang akan dirilis pada Rabu pekan ini. Data tersebut menjadi penentu utama dalam menilai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Saat ini, pasar memperkirakan peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap mencapai 81%, meningkat dari 51% pada bulan sebelumnya. Namun, jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa kembali muncul, memperkuat dolar AS.

Menanggapi tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi lebih agresif jika diperlukan. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa langkah intervensi tidak akan dihindari jika stabilitas nilai tukar rupiah terancam. “Kalau memang perlu kita intervensi lebih bold, ya kita akan lakukan intervensi lebih bold, karena sekarang kalau kami lihat, memang sumber utama dari gejolak ini emang lebih di global banyaknya,” ujarnya dalam program Central Banking CNBC Indonesia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya