Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.920 per Dolar AS

Rupiah berakhir melemah 0,14% ke level Rp17.920/US$ pada penutupan perdagangan Kamis, dipengaruhi tekanan pasar global dan ketidakpastian kebijakan suku bunga AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 17.33 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 21x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.920 per Dolar AS📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kurs rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, menunjukkan penurunan sebesar 0,14% dibandingkan posisi sebelumnya. Mata uang nasional berada di level Rp17.920 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp17.895/US$. Pergerakan ini mencerminkan tekanan berkelanjutan terhadap nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar keuangan global.

Selama sesi perdagangan, rupiah sempat menguat hingga menyentuh level Rp17.957/US$ sebelum akhirnya kembali melemah. Pergerakan ini terjadi setelah dibuka di posisi Rp17.900/US$, menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Meskipun dolar AS secara umum mengalami pelemahan, terlihat dari indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,43% ke level 102,110 pada pukul 15.00 WIB, rupiah tetap berada di zona negatif.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen pasar yang dipengaruhi oleh perkembangan pasar obligasi AS dan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Meski data inflasi AS untuk September menunjukkan angka 3,7% secara tahunan—melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%—nilai imbal hasil obligasi pemerintah AS justru turun. Yield obligasi tenor 10 tahun berada di kisaran 5,09%, sedangkan tenor 30 tahun berada di sekitar 5,45%, menandakan menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Penurunan yield tersebut seharusnya mendukung aset berdenominasi dolar AS, namun tidak cukup kuat untuk menahan pelemahan rupiah. Investor tetap mempertimbangkan risiko eksternal, termasuk rilis data ekonomi kunci AS seperti indeks harga produsen (PPI) dan penjualan ritel yang dijadwalkan pada malam hari. Data tersebut menjadi acuan penting dalam menilai tekanan inflasi dan aktivitas konsumsi, yang berdampak langsung pada keputusan The Fed.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya