Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp18.022 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah menguatkan posisi melemah ke level Rp18.022 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, dipengaruhi tekanan eksternal dari ketegangan regional di Selat Hormuz.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 53x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp18.022 per Dolar AS📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan pada akhir perdagangan hari Rabu (21/10/2026), menutup sesi dengan penurunan 30 poin atau sekitar 0,17% ke posisi 18.022 per dolar AS. Penurunan ini mencerminkan tekanan terhadap mata uang domestik yang terus berlanjut di tengah ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz. Di sisi lain, data JISDOR BI menunjukkan rupiah bergerak stabil di level Rp17.986 per dolar AS, menunjukkan perbedaan indikator yang perlu dicermati secara mendalam.

Faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah berasal dari isu eksternal, khususnya insiden kebakaran kapal tanker raksasa yang terjadi setelah menghantam ranjau laut di sebelah selatan Selat Hormuz. Insiden tersebut dilaporkan terjadi saat kapal sedang melanggar aturan Iran, menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur perdagangan global. Data dari layanan pelacakan kapal Kpler mencatat setidaknya 18 serangan terhadap kapal dalam dua pekan terakhir, memperburuk sentimen risiko di pasar keuangan.

Kelompok Houthi juga menyatakan bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco di Yanbu, ladang Shaybah, serta target di bandara Riyadh dan Abha. Serangan tersebut turut menambah tensi di kawasan, yang berdampak pada pergerakan mata uang global termasuk rupiah. Jumlah korban tewas akibat serangan terhadap pasukan pemerintah Yaman telah meningkat menjadi 73 orang, menandai eskalasi konflik yang kian intens.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah diproyeksikan tetap rentan terhadap volatilitas eksternal, terutama jika ketegangan di kawasan terus berlanjut. Pasar menantikan respons kebijakan moneter Bank Indonesia dalam menghadapi tekanan ini, meskipun belum ada indikasi perubahan suku bunga dalam waktu dekat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya