Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp18.027 per Dolar Akibat Kekhawatiran MSCI

Rupiah berakhir melemah ke level Rp18.027 per dolar AS pada Jumat (16/10), dipengaruhi sentimen negatif domestik terkait ancaman penurunan peringkat pasar modal oleh MSCI.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 09.29 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 44x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp18.027 per Dolar Akibat Kekhawatiran MSCI📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat sore tercatat di posisi Rp18.027 per dolar AS, menunjukkan penurunan sebesar 89 poin atau 0,50 persen dibandingkan hari sebelumnya. Pelemahan ini terjadi meski indeks dolar AS mengalami penurunan, menandakan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor internal, bukan tekanan eksternal.

Pergerakan mata uang regional menunjukkan ketidakseragaman, dengan sejumlah mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,06 persen, peso Filipina naik 0,12 persen, ringgit Malaysia meroket 0,01 persen, dolar Singapura menguat 0,15 persen, yen Jepang naik 0,03 persen, dan won Korea Selatan menguat signifikan 0,75 persen. Dolar Hong Kong justru melemah tipis 0,01 persen.

Di pasar mata uang maju, euro Eropa sedikit melemah 0,01 persen, sementara poundsterling Inggris menguat 0,20 persen, dolar Australia terapresiasi 0,50 persen, dolar Kanada naik 0,14 persen, dan franc Swiss menguat 0,23 persen. Pergerakan ini menunjukkan kinerja relatif kuat mata uang negara maju, sekaligus menekankan dominasi sentimen domestik sebagai pemicu pelemahan rupiah.

Analis DOO Financial Futures, Lukman Leong, menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan peringkat pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). "Pelemahan ini murni dipicu sentimen negatif dalam negeri, terutama terkait kekhawatiran terhadap status pasar modal Indonesia, meski indeks dolar AS sedang meredam tekanan," ujarnya.

Penguatan dolar AS secara global tidak menjadi faktor utama, karena indeks dolar justru turun seiring berkurangnya aksi jual obligasi global. Dengan demikian, penurunan rupiah lebih mencerminkan ketidakpastian internal dibandingkan kondisi eksternal yang stabil.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya