Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp18.030, BI Siap Intervensi

Rupiah ditutup melemah ke Rp18.030 per dolar AS, didorong tekanan pasar global dan ketidakpastian terkait klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, sementara BI siap lakukan intervensi untuk jaga stabilitas kurs.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 17.48 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 64x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp18.030, BI Siap Intervensi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026), menetapkan level Rp18.030 per dolar AS, terpantau melemah 0,17% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang berada di Rp18.000. Pergerakan ini terjadi di tengah tekanan berkelanjutan terhadap pasar keuangan domestik, yang diperparah oleh sentimen negatif dari pasar global. Indeks dolar AS (DXY) juga menguat 0,10% ke posisi 101,936 pada pukul 15.00 WIB, mencerminkan penguatan greenback terhadap mata uang utama lainnya.

Kekhawatiran terhadap kondisi pasar saham Indonesia memperburuk tekanan terhadap rupiah. Pasca-pengumuman potensi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI dari Emerging Market menjadi Standalone Market, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terkoreksi tajam. Pada pembukaan perdagangan, IHSG turun hingga 4,31% ke level 4.961,88, dengan sebanyak 602 saham mengalami penurunan. Beberapa emiten besar seperti BBCA, BBRI, dan TLKM bahkan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) sebesar 7%. Pelemahan terus berlanjut hingga akhir sesi pertama, menembus level 5,05% ke posisi 4.923,26.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar rapat daring dengan MSCI pada pukul 15.30 WIB untuk meminta klarifikasi terkait keputusan tersebut. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa pelaku pasar global juga belum mengetahui informasi sebelumnya, sehingga menciptakan ketidakpastian besar. Ketidakjelasan ini berpotensi memicu penyesuaian portofolio oleh investor asing, yang dapat memperkuat arus keluar modal dari aset domestik.

Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi aktif. Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, menyatakan bahwa langkah-langkah telah dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Ia menekankan bahwa intervensi dilakukan untuk menjaga mekanisme pasar tetap berjalan secara sehat sesuai fundamental ekonomi.

Dengan kondisi pasar yang tetap rentan, perhatian pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang akan berlangsung pada 20–21 Oktober 2026. Keputusan suku bunga acuan, yang akan diumumkan pada Rabu (21/10/2026), dinilai krusial untuk menunjukkan sikap bank sentral dalam merespons tekanan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas keuangan nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya