Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp18.045 per Dolar AS

Rupiah berakhir melemah ke level Rp18.045 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, didorong tekanan eksternal dan kenaikan harga minyak global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 17.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 15x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp18.045 per Dolar AS📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kurs rupiah menguatkan posisi melemahnya pada penutupan perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, menempatkan nilai tukar di Rp18.045 per dolar AS. Penurunan ini mencatatkan penurunan harian sebesar 0,25% atau 45 poin dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di Rp18.000. Pergerakan harian berlangsung dalam kisaran Rp18.010 hingga Rp18.050, dengan penutupan mendekati titik terlemah sepanjang hari.

Meskipun indeks dolar AS (DXY) mengalami pelemahan sebesar 0,20% ke posisi 101,575 pada pukul 15.00 WIB, dolar tetap bertahan di atas level 101. Keberlanjutan dukungan terhadap greenback berasal dari ekspektasi ketahanan ekonomi Amerika Serikat, termasuk pertumbuhan sektor kecerdasan buatan yang memperkuat optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah.

Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh prospek kebijakan moneter global yang akan diputuskan pekan depan, termasuk The Fed, Bank Sentral Eropa, dan Bank of Japan. Ketiga bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, namun pasar akan menilai pernyataan mereka untuk menilai arah kebijakan ke depan. The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga di kisaran 3,75-4,00% pada Oktober, sementara peluang kenaikan pada Desember masih menjadi perhatian pasar.

Kenaikan harga minyak dunia turut menjadi faktor tekanan tambahan. Harga minyak mentah Brent naik 2,59% menjadi US$111,64 per barel, dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar defisit neraca perdagangan dan meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembiayaan impor, sekaligus menambah tekanan inflasi domestik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya