Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, Tekanan dari Dolar AS dan Data Ekonomi Global

Rupiah berakhir melemah 0,06% ke level Rp17.895/US$ pada Rabu (14/10/2026), dipengaruhi fluktuasi pasar global dan ekspektasi inflasi AS yang tinggi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 09.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 47x dibuka
Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, Tekanan dari Dolar AS dan Data Ekonomi Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan kecenderungan melemah pada penutupan perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang nasional ditutup di posisi Rp17.895 per dolar AS, sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya pada Rp17.885/US$. Pergerakan harian berlangsung fluktuatif, dengan rupiah sempat menguat ke level Rp17.870 sebelum kembali tertekan hingga menyentuh puncak penurunan di Rp17.915.

Kekuatan dolar AS yang relatif stabil turut memengaruhi kinerja rupiah. Indeks dolar AS (DXY), yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, melemah tipis 0,02% menjadi 102,164 pada pukul 15.00 WIB. Namun, kecenderungan pelemahan dolar tidak cukup mengimbangi tekanan dari sentimen pasar global yang cenderung hati-hati. Kondisi ini diperparah oleh perkembangan ekonomi China yang menunjukkan sinyal ketidakpastian meski surplus perdagangan tetap tinggi.

Pada bulan September 2026, surplus neraca perdagangan China mencapai US$133,53 miliar, didorong ekspor yang tumbuh 36,3% secara tahunan dan impor yang naik 31%, keduanya melampaui ekspektasi pasar. Menurut Kepala Ekonom Greater China ING, Lynn Song, hubungan perdagangan utama China diperkirakan tetap stabil hingga akhir tahun, menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Perkembangan ini menjadi perhatian bagi Indonesia karena kinerja perdagangan China berdampak langsung pada prospek ekspor Indonesia.

Pasar juga menanti rilis data inflasi konsumen AS untuk bulan September 2026, yang diperkirakan menunjukkan kenaikan tahunan menjadi 3,6% dari 3,4% pada Agustus, dengan inflasi bulanan diproyeksikan mencapai 0,6%. Data ini menjadi kunci dalam menilai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dalam jangka pendek.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya