Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, Tekanan dari Dolar AS dan Data Ekonomi Global
Rupiah berakhir melemah 0,06% ke level Rp17.895/US$ pada Rabu (14/10/2026), dipengaruhi fluktuasi pasar global dan ekspektasi inflasi AS yang tinggi.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 09.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 47x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan kecenderungan melemah pada penutupan perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang nasional ditutup di posisi Rp17.895 per dolar AS, sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya pada Rp17.885/US$. Pergerakan harian berlangsung fluktuatif, dengan rupiah sempat menguat ke level Rp17.870 sebelum kembali tertekan hingga menyentuh puncak penurunan di Rp17.915.
Kekuatan dolar AS yang relatif stabil turut memengaruhi kinerja rupiah. Indeks dolar AS (DXY), yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, melemah tipis 0,02% menjadi 102,164 pada pukul 15.00 WIB. Namun, kecenderungan pelemahan dolar tidak cukup mengimbangi tekanan dari sentimen pasar global yang cenderung hati-hati. Kondisi ini diperparah oleh perkembangan ekonomi China yang menunjukkan sinyal ketidakpastian meski surplus perdagangan tetap tinggi.
Pada bulan September 2026, surplus neraca perdagangan China mencapai US$133,53 miliar, didorong ekspor yang tumbuh 36,3% secara tahunan dan impor yang naik 31%, keduanya melampaui ekspektasi pasar. Menurut Kepala Ekonom Greater China ING, Lynn Song, hubungan perdagangan utama China diperkirakan tetap stabil hingga akhir tahun, menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Perkembangan ini menjadi perhatian bagi Indonesia karena kinerja perdagangan China berdampak langsung pada prospek ekspor Indonesia.
Pasar juga menanti rilis data inflasi konsumen AS untuk bulan September 2026, yang diperkirakan menunjukkan kenaikan tahunan menjadi 3,6% dari 3,4% pada Agustus, dengan inflasi bulanan diproyeksikan mencapai 0,6%. Data ini menjadi kunci dalam menilai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dalam jangka pendek.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sekjen D-8 tegaskan peran strategis negara anggota dalam menjaga stabilitas global dan memperkuat kerja sama ekonomi melalui transformasi hijau dan digital.
24 Oktober 2026

Monako Ungguli Dunia sebagai Tempat Tinggal Terbaik 2026
Monako meraih posisi teratas dalam indeks tempat tinggal terbaik dunia 2026 berdasarkan evaluasi lima aspek kunci, termasuk kualitas hidup dan keamanan.
24 Oktober 2026

Gajian Jadi Waktu Tepat, Transmart Gelar Diskon Besar-besaran
Transmart menggelar Full Day Sale pada 25 Oktober 2026 dengan diskon hingga 50% + 20% khusus pemegang kartu kredit Bank Mega, Mega Syariah, dan Mandiri.
24 Oktober 2026

Kipas Angin Lokal Dominan, Komponen Impor dari China
Di Glodok, Jakarta Barat, mayoritas kipas angin merek lokal dirakit dalam negeri, tetapi sebagian besar komponennya berasal dari China, didukung harga kompetitif dan kebutuhan industri.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

Makan Sebelum dan Sesudah Olahraga, Kunci Optimalisasi Performa Tubuh
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.20 WITA

