Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan, Tekanan Global Masih Menghantui

Rupiah bergerak melemah ke level Rp18.050 per dolar AS pada awal perdagangan Jumat, didorong ketegangan geopolitik dan harga minyak yang tinggi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan, Tekanan Global Masih Menghantui📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencatatkan penurunan tipis di angka Rp18.050 per dolar AS. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026) berada di posisi Rp18.045 per dolar AS, menunjukkan pergerakan turun sebesar 0,03% atau setara 5 poin. Pergerakan ini mencerminkan tekanan yang masih terus berlanjut terhadap mata uang lokal, meski belum menunjukkan kecenderungan pelemahan signifikan.

Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau stabil di level 101,603, menunjukkan kekuatan greenback yang relatif konsisten terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan proyeksi peningkatan penyaluran kredit perbankan pada kuartal IV-2026. Berdasarkan hasil Survei Perbankan Triwulan III-2026, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru diperkirakan naik menjadi 91,31%, meningkat dari 90,08% pada kuartal sebelumnya.

Penurunan Indeks Lending Standard (ILS) dari 0,28 menjadi 0,15 menunjukkan semakin longgarnya standar pemberian kredit oleh bank, yang menjadi bagian dari upaya BI untuk memperluas ruang likuiditas dan mendorong aktivitas pembiayaan. Kondisi ini sejalan dengan kebijakan moneter yang berfokus pada penguatan ekonomi domestik di tengah tantangan eksternal.

Di sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus menjadi pemicu ketidakpastian pasar. Laporan media internasional menyebut adanya rencana serangan terhadap Iran oleh AS dan Israel, menyusul pemilu paruh waktu di AS pada November 2026. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan tidak ada negosiasi dengan Teheran memperkuat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak ke level US$112,96 per barel, setelah sebelumnya naik sekitar 4%.

Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada negara importir bersih seperti Indonesia, yang harus menyerap lebih banyak dolar AS untuk kebutuhan impor energi. Hal ini meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan berpotensi mendorong inflasi domestik. Di tengah kondisi tersebut, investor beralih ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS, yang menyebabkan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun ke 4,972% dan tenor dua tahun ke 4,659%, level terendah dalam sekitar satu bulan terakhir. Meski demikian, ketidakpastian global masih membatasi ruang penguatan rupiah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya