Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.903 per Dolar AS

Rupiah ditutup melemah tipis ke level Rp17.903 per dolar AS pada perdagangan Rabu sore, terpicu kenaikan harga minyak global dan sentimen pasar yang hati-hati.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 21.04 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 32x dibuka
Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.903 per Dolar AS📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (14/10) berada di posisi Rp17.903 per dolar AS, mengalami penurunan sebesar tiga poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan tekanan kecil terhadap mata uang domestik, meski pergerakan secara keseluruhan masih relatif stabil. Penguatan dolar AS secara global menjadi faktor penekan utama, terutama setelah harga minyak dunia melonjak, yang memengaruhi sentimen pasar terhadap aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Peso Filipina turun 0,14 persen, sementara won Korea Selatan dan yuan China masing-masing melemah 0,14 persen dan 0,02 persen. Yen Jepang juga tercatat melemah 0,04 persen. Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi satu-satunya mata uang yang menguat, naik 0,10 persen, sedangkan dolar Hong Kong tetap stabil.

Pada pasar global, mata uang negara maju menunjukkan pergerakan bervariasi. Dolar Australia menguat 0,36 persen, pound sterling Inggris naik 0,03 persen, dan dolar Kanada terapresiasi 0,01 persen. Sementara itu, euro Eropa turun 0,01 persen dan franc Swiss melemah 0,07 persen terhadap dolar AS. Tekanan terhadap rupiah sebagian tertahan oleh koreksi indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (UST), yang memberikan ruang bagi rupiah untuk tidak melemah lebih dalam.

Analis dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa pelemahan rupiah terbatas dan hampir datar, didorong oleh kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan biaya energi global. Ia menambahkan bahwa investor tetap berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS yang akan dirilis pada malam hari waktu setempat, yang berpotensi memicu volatilitas pasar. Keputusan investasi sementara diperkirakan akan menunggu data tersebut sebelum menentukan arah pasar lebih lanjut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya