Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Dolar AS Melemah
Rupiah berakhir menguat ke level Rp17.885 per dolar AS, didorong sentimen domestik dan pelemahan dolar global, sementara independensi BI menjadi sorotan pasar.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 21.23 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 58x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pada penutupan perdagangan Selasa (13/10/2026), mata uang rupiah berhasil membalikkan tren melemah di awal sesi dan ditutup menguat tipis ke posisi Rp17.885 per dolar AS, menguat 0,06% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.895. Pergerakan ini menandai pemulihan setelah sempat terdesak ke level Rp17.940 pada sesi pagi, menunjukkan kembali ketahanan terhadap tekanan pasar.
Penguatan rupiah terjadi seiring dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,28% ke level 102,297 pada pukul 15.00 WIB. Indeks tersebut mencerminkan kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk euro dan yen, dan menunjukkan kembali tekanan terhadap dolar global. Kondisi ini memberi ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk kembali menarik perhatian investor.
Di dalam negeri, sentimen positif muncul dari pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti yang menegaskan bahwa bank sentral tetap memiliki kewenangan penuh dalam menentukan kebijakan suku bunga, termasuk penggunaan instrumen kebijakan lainnya. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan Reuters, menekankan bahwa keputusan kebijakan moneter tetap berada di tangan BI, meski koordinasi dengan pemerintah semakin intensif.
Pasaran juga memperhatikan data inflasi konsumen AS yang akan dirilis Rabu (14/10/2026), sebagai acuan utama untuk memprediksi arah kebijakan The Federal Reserve. Jika data menunjukkan inflasi lebih rendah dari ekspektasi, tekanan terhadap dolar AS bisa mereda, yang secara tidak langsung mendukung mata uang negara berkembang. Sebaliknya, inflasi tinggi akan memperkuat dolar dan membebani rupiah.
Penguatan rupiah hari ini mencerminkan kembali kepercayaan pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter Indonesia, terutama dalam konteks independensi BI yang tetap menjadi fondasi utama kepercayaan investor.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sekjen D-8 tegaskan peran strategis negara anggota dalam menjaga stabilitas global dan memperkuat kerja sama ekonomi melalui transformasi hijau dan digital.
24 Oktober 2026

Monako Ungguli Dunia sebagai Tempat Tinggal Terbaik 2026
Monako meraih posisi teratas dalam indeks tempat tinggal terbaik dunia 2026 berdasarkan evaluasi lima aspek kunci, termasuk kualitas hidup dan keamanan.
24 Oktober 2026

Gajian Jadi Waktu Tepat, Transmart Gelar Diskon Besar-besaran
Transmart menggelar Full Day Sale pada 25 Oktober 2026 dengan diskon hingga 50% + 20% khusus pemegang kartu kredit Bank Mega, Mega Syariah, dan Mandiri.
24 Oktober 2026

Kipas Angin Lokal Dominan, Komponen Impor dari China
Di Glodok, Jakarta Barat, mayoritas kipas angin merek lokal dirakit dalam negeri, tetapi sebagian besar komponennya berasal dari China, didukung harga kompetitif dan kebutuhan industri.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

Makan Sebelum dan Sesudah Olahraga, Kunci Optimalisasi Performa Tubuh
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.20 WITA

