Rupiah Menguat Tipis di Akhir Pekan, Tekanan Global dan Domestik Tetap Menghantui
Rupiah ditutup menguat 0,03% ke Rp18.040 per dolar AS pada Jumat (23/10/2026), meski masih menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi AS dan isu klasifikasi pasar saham Indonesia.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 09.17 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 40x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Mata uang nasional kembali menunjukkan kekuatan tipis pada penutupan perdagangan pekan ini, dengan rupiah menguat 0,03% ke level Rp18.040 per dolar Amerika Serikat. Penguatan ini menjadi pembalikan dari pelemahan sebelumnya, saat rupiah melemah 0,25% pada Kamis (22/10/2026). Selama hari perdagangan, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp18.040 hingga Rp18.080, menutup sesi di posisi terkuat sepanjang hari dan menguat 40 poin dari titik terlemah harian.
Namun, penguatan tersebut tidak mengurangi tekanan yang dihadapi rupiah dari luar dan dalam negeri. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia tercatat menguat 0,19% ke posisi 101,802 pada pukul 09.00 WIB, menunjukkan dominasi dolar global. Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia, Firman Mochtar, menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, khususnya tenor 10 tahun, membuat aset berdenominasi dolar semakin menarik bagi investor global.
Dampaknya, arus modal asing cenderung bergerak ke aset dolar, yang berpotensi mengurangi minat investasi di pasar keuangan negara berkembang seperti Indonesia. "Dampaknya adalah DXY menguat, kemarin sudah mencapai 101," ujar Firman dalam paparan media di Jakarta. Penguatan dolar global secara otomatis melemahkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang memperkuat tekanan terhadap nilai tukar domestik.
Di sisi dalam negeri, perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut berkontribusi terhadap ketidakpastian investor. Meski masih dalam tahap konsultasi, rencana pemindahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market memengaruhi persepsi terhadap stabilitas dan daya tarik pasar keuangan domestik. "Jadi aliran modal keluar, tekanan global dan domestik. Yang secara umum memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah," ungkapnya.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

BEI Pantau Transaksi Saham PNSE dan DKHH Akibat Volatilitas Ekstrem
Bursa Efek Indonesia memantau aktivitas pasar tak lazim pada saham PNSE dan DKHH menyusul kenaikan harga yang tidak wajar dalam periode singkat.
24 Oktober 2026

Agoes Projosasmito Akuisisi Saham BRMS Senilai Rp2,4 M
Wakil Presiden Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk. membeli 5,5 juta saham BRMS senilai total Rp2,46 miliar dalam dua transaksi terpisah pada 22 Oktober 2026.
24 Oktober 2026

Inflasi Jepang Naik, BOJ Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Inflasi inti Jepang mencapai 2,1% pada September 2026, tertinggi sepanjang tahun, mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan di akhir tahun.
24 Oktober 2026

Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli
Investor diminta tidak asal beli saham karena harga turun, melainkan menilai kualitas bisnis dan valuasi secara komprehensif.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Menko Airlangga: Bukan Hanya MSCI yang Menentukan Kredibilitas Pasar Modal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

BRI Perluas Akses Magang Nasional untuk Generasi Muda
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

DKI Jakarta dan Pertamina Hulu Mahakam Raih Penghargaan Energi Subroto 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Prabowo Siap Salurkan Rp400 T untuk Petani dan Nelayan Tahun Depan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Pemerintah Alihkan Ekspor Gas ke Dalam Negeri untuk Kelistrikan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Stok Beras Nasional Tembus 4,56 Juta Ton, Tertinggi Sejak 1992
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

