Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS di Awal Pekan

Rupiah melemah ke level Rp18.000 per dolar AS pada awal perdagangan Jumat, dipicu tekanan dari penguatan dolar global dan sentimen pasar terkait klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 12.08 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 122x dibuka
Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS di Awal Pekan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada perdagangan awal Jumat (16/10/2026), mata uang rupiah mengalami tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam sesi perdagangan pagi, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,33% ke posisi Rp17.980 per dolar AS. Hanya dua menit kemudian, pelemahan semakin dalam hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, menunjukkan ketegangan di pasar valuta asing. Pergerakan ini melanjutkan tren melemah dari sesi sebelumnya, ketika rupiah ditutup pada posisi Rp17.920 per dolar AS setelah sempat menyentuh Rp17.957.

Penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia turut mendorong penurunan rupiah. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat menguat 0,03% ke level 102,081. Meski telah mengalami koreksi dari puncaknya dalam 18 bulan, DXY tetap berada di atas level 102, mencerminkan daya tarik greenback yang masih kuat. Kekuatan dolar AS didukung oleh data ekonomi AS yang menunjukkan kenaikan harga produsen terbesar dalam 4,5 tahun pada bulan September, serta pertumbuhan penjualan ritel yang melampaui ekspektasi pasar.

Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) mulai mereda. Pasar kini memperkirakan peluang 73% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober. Hal ini disebabkan oleh komentar hati-hati dari beberapa pejabat bank sentral AS. Investor kini menantikan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter AS mendatang.

Di dalam negeri, sentimen pasar juga terpengaruh oleh isu klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. Badan tersebut sedang melakukan konsultasi publik terkait rencana menaikkan status pasar saham Indonesia dari *Emerging Market* ke *Standalone Market*. Proses ini masih berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan akhir dijadwalkan pada akhir Juni 2027. MSCI menyatakan bahwa klasifikasi sebagai pasar berkembang tidak lagi relevan karena keprihatinan mengenai transparansi struktur kepemilikan, potensi perdagangan terkoordinasi, serta ketidakmampuan penegakan aturan yang signifikan.

Selama masa konsultasi, MSCI memutuskan untuk menahan sejumlah perubahan indeks, termasuk tidak menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF), menambah saham baru ke indeks, atau menaikkan saham ke segmen yang lebih tinggi. Keputusan tersebut berpotensi memperkuat kehati-hatian investor asing terhadap aset domestik. Jika terjadi aliran dana keluar dari pasar saham, kebutuhan terhadap dolar AS dapat meningkat, yang pada akhirnya menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya