Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Sentuh Rp18.000/US$ Akibat Tekanan Dalam dan Kekhawatiran Pasar

Rupiah melemah 0,45% ke level Rp18.000/US$ pada akhir pekan, dipengaruhi sentimen domestik dan kekhawatiran terkait rencana klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 12.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 23x dibuka
Rupiah Sentuh Rp18.000/US$ Akibat Tekanan Dalam dan Kekhawatiran Pasar📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kurs rupiah menutup perdagangan Jumat (16/10/2026) di posisi Rp18.000 per dolar AS, menandai pelemahan signifikan yang menembus ambang psikologis penting. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang nasional melemah 0,45% dari posisi pembukaan di Rp17.980, sempat menyentuh level tertinggi melemah harian di Rp18.070 sebelum menguat sedikit menjelang penutupan. Meskipun terjadi koreksi kecil, penutupan di level Rp18.000 menunjukkan tekanan berkelanjutan terhadap nilai tukar domestik.

Pemicu utama pelemahan rupiah kali ini berasal dari dinamika pasar keuangan dalam negeri, terutama terkait pengumuman konsultasi MSCI mengenai perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Meskipun belum menjadi keputusan final, kebijakan tersebut langsung memicu kekhawatiran investor global terhadap arus modal asing yang bisa terganggu. Dampaknya, tekanan terhadap aset lokal, termasuk rupiah, semakin meningkat.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa tekanan rupiah tidak hanya berasal dari kondisi global, tetapi juga dipengaruhi oleh meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan dunia. Peningkatan permintaan dolar AS sebagai aset aman turut memperparah pelemahan rupiah, dengan diperkirakannya arus keluar dana dari portofolio Indonesia masih berlanjut dalam waktu dekat.

Bank Indonesia menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi, termasuk transaksi NDF di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Upaya ini dilakukan secara konsisten untuk memastikan pergerakan rupiah tetap selaras dengan fundamental ekonomi dan menjaga fungsi mekanisme pasar secara efektif.

Secara kuartal, rupiah mengalami pelemahan terbatas sebesar 0,28%, yang masih sejalan dengan tren mata uang negara-negara kawasan. Di sisi lain, ketahanan sektor eksternal tetap terjaga dengan cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026. BI juga terus memantau likuiditas pasar uang, mengelola struktur suku bunga, serta menjalin koordinasi intensif dengan pelaku pasar dan institusi terkait untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya