Rupiah Tembus Rp18.000, Tekanan Global dan Isu MSCI Picu Pelemahan
Rupiah melemah signifikan ke level Rp18.027 per dolar AS pada akhir pekan, didorong sentimen global dan ancaman penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI yang berpotensi picu arus keluar modal hingga US$13 miliar.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 17.51 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 39x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami tekanan berat pada perdagangan Jumat (16/10/2026), ditutup melemah 89 poin ke posisi Rp18.027 per dolar AS, bergerak dari level Rp17.938 pada sesi sebelumnya. Pelemahan ini mencerminkan ketegangan pasar yang memburuk, dengan rupiah sempat terpukul hingga 140 poin sebelum akhirnya menunjukkan sedikit penguatan menjelang penutupan. Aksi jual terus menggerus nilai tukar, terutama menyusul kekhawatiran terhadap stabilitas pasar modal domestik.
Dari sisi eksternal, sentimen dari Federal Reserve turut memengaruhi pergerakan mata uang. Meski pejabat Fed seperti Mary Daly dan Michelle Bowman menyatakan kenaikan suku bunga belum perlu segera dilakukan, pasar tetap waspada menanti arahan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF di Bangkok, yang dinilai akan menentukan arah kebijakan moneter global akhir bulan ini. Ketidakpastian ini memperkuat permintaan dolar AS sebagai aset aman.
Di dalam negeri, isu penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI menjadi pemicu utama ketegangan. Rencana MSCI menurunkan Indonesia ke kategori standalone market pada 30 Juni 2027, akibat kekhawatiran terhadap tata kelola perusahaan dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, memperparah kekhawatiran investor. Status tersebut berpotensi mengurangi eksposur asing, mengancam arus modal yang selama ini menjadi penopang likuiditas pasar.
Menurut analis ekonomi, perubahan status oleh MSCI dapat memicu arus keluar modal hingga US$13 miliar, sebagaimana diperkirakan oleh Goldman Sachs. Jika terjadi, likuidasi besar-besaran oleh manajer investasi aktif akan menambah tekanan pada rupiah dan memperparah keterbatasan likuiditas pasar. Ancaman ini tidak hanya berdampak pada kurs, tetapi juga pada stabilitas sistem keuangan secara menyeluruh.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sekjen D-8 tegaskan peran strategis negara anggota dalam menjaga stabilitas global dan memperkuat kerja sama ekonomi melalui transformasi hijau dan digital.
24 Oktober 2026

Monako Ungguli Dunia sebagai Tempat Tinggal Terbaik 2026
Monako meraih posisi teratas dalam indeks tempat tinggal terbaik dunia 2026 berdasarkan evaluasi lima aspek kunci, termasuk kualitas hidup dan keamanan.
24 Oktober 2026

Gajian Jadi Waktu Tepat, Transmart Gelar Diskon Besar-besaran
Transmart menggelar Full Day Sale pada 25 Oktober 2026 dengan diskon hingga 50% + 20% khusus pemegang kartu kredit Bank Mega, Mega Syariah, dan Mandiri.
24 Oktober 2026

Kipas Angin Lokal Dominan, Komponen Impor dari China
Di Glodok, Jakarta Barat, mayoritas kipas angin merek lokal dirakit dalam negeri, tetapi sebagian besar komponennya berasal dari China, didukung harga kompetitif dan kebutuhan industri.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

Makan Sebelum dan Sesudah Olahraga, Kunci Optimalisasi Performa Tubuh
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.20 WITA

