Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Tembus Rp18.000, Tekanan Global dan Isu MSCI Picu Pelemahan

Rupiah melemah signifikan ke level Rp18.027 per dolar AS pada akhir pekan, didorong sentimen global dan ancaman penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI yang berpotensi picu arus keluar modal hingga US$13 miliar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 17.51 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 39x dibuka
Rupiah Tembus Rp18.000, Tekanan Global dan Isu MSCI Picu Pelemahan📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami tekanan berat pada perdagangan Jumat (16/10/2026), ditutup melemah 89 poin ke posisi Rp18.027 per dolar AS, bergerak dari level Rp17.938 pada sesi sebelumnya. Pelemahan ini mencerminkan ketegangan pasar yang memburuk, dengan rupiah sempat terpukul hingga 140 poin sebelum akhirnya menunjukkan sedikit penguatan menjelang penutupan. Aksi jual terus menggerus nilai tukar, terutama menyusul kekhawatiran terhadap stabilitas pasar modal domestik.

Dari sisi eksternal, sentimen dari Federal Reserve turut memengaruhi pergerakan mata uang. Meski pejabat Fed seperti Mary Daly dan Michelle Bowman menyatakan kenaikan suku bunga belum perlu segera dilakukan, pasar tetap waspada menanti arahan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF di Bangkok, yang dinilai akan menentukan arah kebijakan moneter global akhir bulan ini. Ketidakpastian ini memperkuat permintaan dolar AS sebagai aset aman.

Di dalam negeri, isu penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI menjadi pemicu utama ketegangan. Rencana MSCI menurunkan Indonesia ke kategori standalone market pada 30 Juni 2027, akibat kekhawatiran terhadap tata kelola perusahaan dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, memperparah kekhawatiran investor. Status tersebut berpotensi mengurangi eksposur asing, mengancam arus modal yang selama ini menjadi penopang likuiditas pasar.

Menurut analis ekonomi, perubahan status oleh MSCI dapat memicu arus keluar modal hingga US$13 miliar, sebagaimana diperkirakan oleh Goldman Sachs. Jika terjadi, likuidasi besar-besaran oleh manajer investasi aktif akan menambah tekanan pada rupiah dan memperparah keterbatasan likuiditas pasar. Ancaman ini tidak hanya berdampak pada kurs, tetapi juga pada stabilitas sistem keuangan secara menyeluruh.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya