Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Terjaga di Dekat Rp18 Ribu Meski Tekanan Global Meningkat

BI menegaskan rupiah tetap stabil di kisaran Rp18 ribu per dolar AS akibat tekanan inflasi AS, ekspektasi kenaikan suku bunga, dan volatilitas minyak global, meski cadangan devisa masih kuat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 15.48 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 62x dibuka
Rupiah Terjaga di Dekat Rp18 Ribu Meski Tekanan Global Meningkat📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada akhir September 2026 masih berada di level dekat Rp18.000 per dolar AS, menunjukkan tekanan eksternal yang cukup kuat. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa faktor utama yang mendorong kenaikan dolar AS berasal dari inflasi AS yang melampaui perkiraan pasar, serta ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari The Federal Reserve. Kondisi ini memicu sentimen risk-off di pasar global, yang kemudian mendorong penguatan dolar AS secara luas.

Ketidakpastian lanjutan konflik di Timur Tengah turut berkontribusi terhadap harga minyak yang tetap berada di atas US$105 per barel, memperbesar risiko fiskal global. Indeks dolar AS (DXY) sempat mencapai level tertinggi sejak Mei 2025, sementara imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun naik 12 basis poin menjadi 4,90 persen. Penguatan ini menggerakkan arus keluar modal dari aset negara berkembang, termasuk Indonesia, yang berdampak pada tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Namun, BI menegaskan bahwa pelemahan rupiah secara kuartal (QTD) terbatas hanya 0,17 persen, yang masih sejalan dengan tren mata uang kawasan Asia. Hal ini menunjukkan ketahanan fundamental ekonomi domestik meski menghadapi tekanan eksternal. Cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar, yang dianggap cukup untuk menopang stabilitas keuangan nasional dalam jangka menengah.

Untuk menjaga keseimbangan pasar, BI aktif melakukan intervensi melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik. Selain itu, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder juga dilakukan sebagai bagian dari strategi manajemen likuiditas. Koordinasi intensif dengan pelaku pasar dan korporasi juga terus dilakukan untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter.

Tujuan utama dari semua langkah tersebut adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi, bukan menargetkan level tertentu. BI menegaskan bahwa mekanisme pasar tetap menjadi acuan utama, sementara intervensi dilakukan hanya sebagai alat pendukung agar tidak mengganggu efisiensi pasar. Dengan pendekatan terukur dan komunikasi transparan, BI berkomitmen menjaga ketahanan sistem keuangan nasional di tengah volatilitas global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya