Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Terjebak di Rp18.000 Akibat Tekanan Ganda dari Minyak dan Pangan

Pelemahan rupiah ke level Rp18.069 per dolar AS dipicu kenaikan harga minyak global dan inflasi pangan yang menekan fiskal negara.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 23.26 WITA·👁 3 orang membaca· 3 hari ini · 78x dibuka
Rupiah Terjebak di Rp18.000 Akibat Tekanan Ganda dari Minyak dan Pangan📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami tekanan signifikan pada akhir pekan, menetap di posisi Rp18.080 per dolar AS setelah melemah 0,11% dari hari sebelumnya. Data JISDOR Bank Indonesia menunjukkan rupiah berada di level Rp18.069/USD, mencerminkan ketegangan di pasar valuta asing. Kondisi ini tidak lepas dari tekanan ganda yang muncul dari dalam negeri, khususnya kenaikan harga minyak mentah internasional yang berada di kisaran USD100 per barel serta lonjakan harga komoditas pangan. Kedua faktor tersebut berdampak langsung terhadap kesehatan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional.

Sebagai negara pengimpor bersih minyak, kenaikan harga minyak global secara otomatis meningkatkan beban belanja negara, terutama dalam subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG). Setiap kenaikan harga crude minyak Indonesia (ICP) berdampak langsung pada perluasan defisit anggaran, karena alokasi subsidi harus disesuaikan sesuai asumsi makro APBN. Hal ini menimbulkan dilema fiskal: menjaga harga energi dalam negeri atau menyesuaikannya, yang berpotensi memperparah inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menekankan bahwa pemerintah kini dihadapkan pada pilihan sulit dalam mengelola keseimbangan antara stabilitas harga dan kesehatan APBN. Jika subsidi dipertahankan, defisit anggaran akan melebar; sebaliknya, jika harga energi dinaikkan, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah yang mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan pokok. Kondisi ini menimbulkan tekanan terhadap ruang fiskal (fiscal space) yang semakin terbatas.

Di sisi lain, kenaikan impor energi menyebabkan lonjakan kebutuhan devisa dolar AS, yang berdampak pada pelemahan rupiah. Tekanan ini semakin memperbesar risiko biaya pembiayaan utang luar negeri, termasuk imbal hasil (yield) dan pembayaran pokok, yang dapat memperparah tekanan pada neraca pembayaran. Pelemahan mata uang juga berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok rentan yang terdampak langsung oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya