Senin, 12 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Saham Grup Prajogo Anjlok, CUAN dan BREN Terpuruk Hampir 13%

Sejumlah emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu melemah tajam pada perdagangan Senin, dengan CUAN dan BREN turun hampir 13% di tengah tekanan pasar dan sentimen global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 12 Oktober 2026, 23.05 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Saham Grup Prajogo Anjlok, CUAN dan BREN Terpuruk Hampir 13%📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pasar saham Indonesia mengalami tekanan berat pada sesi pertama perdagangan Senin (12/10/2026), ditandai dengan penurunan komprehensif sejumlah saham milik kelompok usaha Prajogo Pangestu. Tidak satu pun emiten dalam grup ini mampu bertahan di zona positif, dengan saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi yang paling terdampak, merosot 12,99% atau 100 poin ke level Rp670 per saham.

Menyusul di posisi kedua, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terpantau anjlok 12,59% atau 340 poin ke Rp2.360. Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) juga tergusur 12% ke Rp4.180, sementara PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 9,25% ke Rp1.520. Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) terkoreksi 7,21% ke Rp515. Di antara semua emiten, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi yang paling stabil dengan penurunan terbatas 4,98% ke Rp1.335.

Pergerakan negatif ini turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah. Pada penutupan sesi I, IHSG tercatat melemah 117,98 poin atau 1,94% ke level 5.975, menyentuh titik terendah intraday di 5.971 atau turun 2% dari posisi awal. Meski sempat dibuka menguat hingga 6.109,32 dan menyentuh level tertinggi 6.128,72, tekanan jual menguasai pasar sejak pukul 10.00 WIB. Seluruh sektor di BEI bergerak turun, dengan energi, infrastruktur, dan material dasar menjadi yang paling terdampak, sektor yang menjadi basis utama emiten Prajogo.

BREN dan TPIA tercatat sebagai emiten paling berkontribusi terhadap penurunan IHSG, bersama DSSA, BBCA, dan GOTO. Di sisi lain, investor asing mencatatkan jual bersih senilai Rp166,22 miliar sepanjang sesi I, dengan total transaksi asing mencapai Rp3,33 triliun, terdiri dari pembelian Rp1,58 triliun dan penjualan Rp1,75 triliun. Analis menyebut kekhawatiran terhadap peninjauan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI menjadi faktor utama, terutama risiko penurunan status dari pasar berkembang ke frontier.

Pasar juga terus memantau dinamika geopolitik global, termasuk kemungkinan intervensi AS terhadap Yaman pasca-serangan di Bandara Riyadh, serta rilis data inflasi AS dan China serta neraca perdagangan China yang akan dirilis pada 14 Oktober. Dengan tekanan inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi, dolar AS diperkirakan menguat, menekan rupiah dan memperkuat arus keluar modal asing. BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan prospek IHSG dalam jangka pendek tetap negatif di tengah ketidakpastian tersebut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya