Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Santri Jadi Pelopor Teknologi Berbasis Akhlak

Pendidikan pesantren di Jawa Timur mulai mengintegrasikan AI dan robotika, menunjukkan bahwa tradisi keilmuan dan inovasi teknologi bisa berjalan beriringan dengan prinsip akhlak dan kepedulian sosial.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 09.17 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 87x dibuka
Santri Jadi Pelopor Teknologi Berbasis Akhlak📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Di lingkungan pesantren yang dikenal dengan kekayaan ilmu agama, kini muncul generasi muda yang tidak hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga mampu merancang sistem pengenalan wajah berbasis kecerdasan buatan dan memproduksi objek tiga dimensi. Pada pertengahan Oktober 2026, kunjungan langsung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Pondok Pesantren Darullughah Waddawa'ah di Pasuruan menjadi momentum penting, menyoroti transformasi pendidikan yang menggabungkan nilai-nilai Islam dengan kemajuan teknologi. Para santri memperagakan aplikasi yang mereka kembangkan sendiri, menunjukkan bahwa kemampuan teknis bisa tumbuh dari lingkungan yang biasa dianggap konservatif.

Pengembangan ini bukan sekadar proyek sementara, melainkan bagian dari upaya strategis memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan pesantren. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut, menekankan bahwa kemajuan iptek harus dibarengi dengan pembinaan akhlak dan kepedulian terhadap masyarakat. Di Pacitan, program serupa telah dilaksanakan sejak April 2026, melibatkan 30 santri dan santriwati tingkat MA dalam pelatihan robotika yang berbasis pemikiran komputasional, menunjukkan bahwa tren ini mulai menyebar di berbagai wilayah.

Kunci keberhasilan bukan terletak pada peralatan canggih atau kunjungan pejabat, melainkan pada kemampuan santri memahami permasalahan nyata, merancang solusi secara kreatif, menguji ide secara sistematis, dan menghasilkan karya yang bernilai bagi lingkungan sekitar. Proses ini menunjukkan bahwa teknologi bukan ancaman terhadap tradisi, melainkan alat yang dapat dikelola dengan bijak untuk memperkuat nilai-nilai luhur.

Pendidikan yang berbasis integrasi antara agama, kreativitas, dan inovasi teknologi menjadi fondasi bagi masa depan yang berkelanjutan. Dengan demikian, pesantren tidak lagi diposisikan sebagai entitas terpisah dari perkembangan zaman, melainkan sebagai mitra aktif dalam membangun masyarakat yang cerdas, berakhlak, dan berdaya saing global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya