Sarjana Pilih Jadi ART di Taiwan, Gaji Rp10 Juta Bulanan
Lulusan ekonomi asal Jawa Timur memilih bekerja sebagai asisten rumah tangga di Taiwan dengan pendapatan Rp10 juta per bulan, berhasil lunasi utang keluarga dalam waktu satu tahun.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 15.27 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 8x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Seorang lulusan Sarjana Ekonomi Pembangunan dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah Ponorogo memutuskan berkarier sebagai asisten rumah tangga (ART) di Taiwan meski memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Pria berusia 31 tahun ini, yang akrab dipanggil Maha, memilih jalan tersebut setelah merasa tidak mampu menabung dari gaji UMR saat bekerja di Perhutani Jember, dengan beban utang keluarga dan biaya hidup yang terus membengkak.
Keputusan untuk bekerja di luar negeri muncul dari keinginan untuk menghindari biaya sewa tempat tinggal dan mencari peluang finansial yang lebih stabil. Ia memilih Taiwan setelah mempertimbangkan pengalaman keluarganya yang sebelumnya bekerja sebagai pekerja migran. Proses seleksi dan persiapan keberangkatan memakan waktu sekitar lima bulan, sebelum akhirnya ia mulai bekerja dengan jadwal kerja dari pukul 05.30 hingga 20.30 setiap hari.
Tugas harian Maha mencakup memasak tiga kali sehari, membersihkan rumah empat lantai, mencuci pakaian secara manual dan mesin, serta berbelanja ke pasar. Ia juga membantu menjaga bayi saat cucu majikan berkunjung. Meski kondisi kerja melelahkan—bahkan pernah tertidur di kamar mandi—ia mendapatkan fasilitas tempat tinggal pribadi dan kebebasan menjalankan ibadah, termasuk salat dan puasa.
Dengan penghasilan sekitar Rp10 juta per bulan, Maha berhasil melunasi semua utang keluarga dalam tahun pertama bekerja. Ia menyebut pengalaman ini menjadi transformasi besar bagi mental dan adaptasi dirinya terhadap budaya serta bahasa asing. Ia menegaskan bahwa pendidikannya tidak sia-sia, karena membekali kemampuan komunikasi, manajemen emosi, dan interaksi sosial yang tetap berguna di tempat kerja baru.
Cerita Maha yang tersebar melalui platform digital memicu respons dari sejumlah pengguna yang mengaku memiliki latar belakang pendidikan serupa namun memilih profesi serupa di negara lain, seperti Hong Kong dan Singapura. Mereka menyampaikan bahwa bekerja sebagai ART di luar negeri justru memberi kesempatan finansial dan kemandirian yang sulit diraih di tanah air.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait
Iran Tegaskan Kemandirian Hadapi Tekanan Barat di PBB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya tak akan menyerah atau tunduk pada tekanan AS dalam pidato di Sidang Majelis Umum PBB.
24 September 2026

Pezeshkian Tekankan Legitimasi Iran di Sidang PBB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato di Majelis Umum PBB dengan menegaskan legitimasi bangsa Iran dan menyoroti pelanggaran hukum internasional oleh Amerika Serikat.
24 September 2026

Indonesia Dorong Transisi Iklim Berkeadilan di Forum PBB
Menteri Lingkungan Hidup menyampaikan komitmen nasional dan aksi nyata Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim di ajang PBB, menekankan sinergi antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
24 September 2026

Netanyahu Hadapi Badai Diplomatik di PBB
Perdana menteri Israel menggelar pidato di PBB dengan menyerang wali kota New York yang menuduhnya sebagai pelaku genosida, sementara kritik terhadap kebijakan perang Gaza makin menguat menjelang pemilu.
24 September 2026
Berita Lainnya

Presiden Bentuk Badan Nasional untuk Pencegahan Karhutla dari Akar Rumput
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Presiden Dorong Riset Optimalisasi Lahan Gambut
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Mabes Polri Ambil Alih Penyelidikan Tenggelamnya Kapal Virgo
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Pemprov NTB dan DPR RI Perkuat Perlindungan PMI dari Hulu ke Hilir
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Penyusunan UU Reforma Agraria Dilakukan dengan Pertimbangan Mendalam
Kamis, 24 September 2026, 23.28 WITA

Penularan HIV: Fakta Ilmiah di Balik Mitos yang Berkembang
Kamis, 24 September 2026, 23.22 WITA

Mobil Penumpang Kapal Pesiar Dipenuhi Anak Laba-Laba di Galveston
Kamis, 24 September 2026, 23.15 WITA

Vaksindo Ekspor Vaksin Unggas ke Afrika, Capai Rp1,9 Miliar
Kamis, 24 September 2026, 23.15 WITA

