Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Selamat dari Sambaran Petir: Fakta Medis yang Perlu Diketahui

Hampir 90 persen korban sambaran petir dapat bertahan hidup, asalkan mendapat penanganan medis segera dan tepat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 15.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 17x dibuka
Selamat dari Sambaran Petir: Fakta Medis yang Perlu Diketahui📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Kebanyakan orang mengira tersambar petir berarti hampir pasti meninggal dunia. Namun, data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menunjukkan bahwa hampir sembilan dari sepuluh korban mampu bertahan hidup. Meski begitu, sekitar sepuluh persen dari mereka mengalami kematian, sebagian besar akibat henti jantung yang terjadi akibat gangguan listrik eksternal terhadap sistem kardiovaskular. Kondisi ini menegaskan bahwa meski berbahaya, sambaran petir bukan berarti tidak bisa dilawan oleh tubuh manusia jika ditangani dengan tepat.

Petir tidak selalu mengalir sepenuhnya melalui tubuh korban. Ada berbagai mekanisme cedera, termasuk sambaran langsung, arus listrik yang melompat dari objek terdekat (side flash), atau arus yang menyebar di permukaan tanah. Dalam beberapa kasus, aliran listrik hanya mengalir di luar tubuh, mengurangi risiko cedera internal. Akibatnya, tingkat kerusakan fisik bisa sangat bervariasi—mulai dari luka bakar ringan hingga kehilangan kesadaran dan gangguan saraf.

Jantung menjadi organ paling rentan terganggu karena sifat listriknya yang sensitif terhadap gangguan kelistrikan eksternal. Bila jantung berhenti berdetak, pertolongan dalam waktu menit sangat menentukan. Di Indonesia, masih banyak masyarakat yang percaya mitos bahwa korban harus ditimbun tanah untuk "menyembuhkan" luka listrik. Anggapan ini salah dan berbahaya, karena justru menghambat tindakan resusitasi jantung paru (RJP) yang krusial. Fakta medis menyatakan bahwa korban petir tidak menyimpan arus listrik dalam tubuh, sehingga aman disentuh dan bisa langsung diberi pertolongan.

Beberapa kasus penyintas di Indonesia menunjukkan bukti nyata bahwa keselamatan masih mungkin terjadi. Pada 2010, 14 orang saat berkemah di Tasikmalaya tersambar petir; dua di antaranya butuh perawatan lanjutan karena gangguan jantung, sementara sisanya pulih setelah penanganan medis. Di Flores Timur pada 2020, dua warga yang berteduh di bawah alat berat terkena sambaran dan sempat tak sadarkan diri, namun akhirnya selamat setelah dirawat di rumah sakit.

Dampak jangka panjang dari tersambar petir juga patut diperhatikan. Banyak penyintas mengalami gangguan neurologis seperti sakit kepala kronis, gangguan konsentrasi, kehilangan ingatan, atau disfungsi keseimbangan. Luka bakar, cedera otot, gangguan pendengaran, dan cedera akibat terjatuh juga sering terjadi. Contoh ekstrem adalah Roy C. Sullivan, penjaga taman nasional yang selamat dari tujuh sambaran petir—yang mencatatkan rekor dunia. Meski demikian, kasus seperti ini bukan jaminan keamanan, melainkan bukti bahwa tubuh manusia memiliki kemampuan adaptasi terhadap trauma listrik ekstrem.

Jika melihat korban tersambar petir, langkah pertama adalah memastikan lokasi aman dari ancaman petir berikutnya. Setelah itu, periksa kesadaran dan pernapasan. Jika korban tidak bernapas atau tidak ada tanda sirkulasi, segera lakukan RJP. Gunakan AED jika tersedia. Jangan menunda tindakan karena mitos atau kepercayaan tradisional. Kunci penyelamatan adalah aksi cepat, berbasis ilmu medis, dan tidak terpengaruh oleh mitos yang tidak berdasar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya