Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Serangan Phishing Berkedok Zoom dan Docusign Meningkat Pasca Liburan

Kaspersky melaporkan lonjakan serangan phishing yang menyamar sebagai Zoom dan Docusign, menargetkan perusahaan global melalui email berisi tautan mencuri kredensial sejak awal tahun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 21.03 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 6x dibuka
Serangan Phishing Berkedok Zoom dan Docusign Meningkat Pasca Liburan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kampanye serangan siber berbasis email yang meniru layanan resmi Zoom dan Docusign kembali mewabah pada awal tahun, khususnya dalam periode setelah liburan panjang. Serangan ini menargetkan organisasi di berbagai wilayah dunia, termasuk Timur Tengah, Amerika Latin, Eropa Barat, Rusia, Armenia, dan Azerbaijan. Setiap pesan yang dikirim berpura-pura sebagai komunikasi resmi dari kedua platform tersebut, mengandung tautan berbahaya yang mengarah ke halaman palsu untuk mencuri data login pengguna.

Gelombang pertama menyebar melalui email yang menyamar sebagai pemberitahuan dari Docusign, menggambarkan dokumen yang perlu ditandatangani. Beberapa hari kemudian, gelombang kedua muncul dengan modus baru: email yang mengklaim akun pengguna akan dinonaktifkan jika tidak segera diverifikasi. Kedua bentuk serangan ini mengandalkan taktik phishing dasar, namun tetap efektif karena menggunakan nama merek ternama yang dikenal luas di lingkungan kerja.

Hingga 11 September 2026, lebih dari seribu email phishing telah teridentifikasi sebagai bagian dari kampanye ini. Kaspersky menekankan bahwa keberhasilan serangan tidak hanya disebabkan oleh kecerdikan pelaku, tetapi juga oleh beban tinggi dalam penerimaan email harian yang membuat karyawan mudah terjebak. Bahkan pesan sederhana yang tampak sah bisa lolos dari deteksi jika tidak diawasi secara ketat.

Andrey Kovtun, Manajer Grup Perlindungan Ancaman Email Kaspersky, menegaskan bahwa metode phishing konvensional yang menggunakan merek besar masih menjadi ancaman serius. Ia menyoroti pentingnya sistem keamanan digital yang mampu mendeteksi pola berbahaya tanpa bergantung sepenuhnya pada kesadaran pengguna. “Kesederhanaan taktik ini justru menjadi keunggulan bagi pelaku, karena sering kali tidak menimbulkan kecurigaan,” ujarnya. Menurutnya, solusi keamanan yang memadai seharusnya dapat mengenali dan memblokir ancaman semacam ini secara otomatis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya