Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sinergi Hilirisasi dan Perindustrian Dorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Kolaborasi antara koordinasi hilirisasi dan penguatan industri diharapkan jadi pilar utama pencapaian visi ekonomi Presiden Prabowo, dengan fokus pada nilai tambah, lapangan kerja, dan kemandirian produksi nasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 09.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Sinergi Hilirisasi dan Perindustrian Dorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Pelantikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia serta Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dinilai sebagai langkah strategis dalam mewujudkan transformasi ekonomi Indonesia. Menurut tokoh Partai Golkar, keberadaan kedua menteri ini memperkuat arah kebijakan yang berpijak pada pemanfaatan sumber daya alam secara optimal, dengan penekanan pada pengolahan lokal untuk menciptakan nilai tambah tinggi.

Hilirisasi yang dikoordinasikan oleh Menko Bahlil dianggap memiliki potensi besar, terutama dalam menggerakkan sektor-sektor strategis seperti mineral, pertanian, dan perikanan. Proses pengolahan bahan baku menjadi produk setengah jadi maupun jadi tidak hanya meningkatkan kontribusi ekonomi, tetapi juga menurunkan ketergantungan pada impor barang mentah. Dalam konteks ini, penguatan sistem pengolahan dalam negeri menjadi kunci utama.

Di sisi lain, pendekatan Menteri Perindustrian Sarmuji yang menempatkan industri sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi menunjukkan komitmen kuat untuk memperluas basis produksi nasional. Program ini didukung oleh visi mengintegrasikan industri padat teknologi dengan industri padat karya, sehingga produktivitas dan daya saing dapat meningkat tanpa mengorbankan penciptaan lapangan kerja. Pendekatan simultan ini diharapkan mampu menjawab tantangan struktur ekonomi yang belum sepenuhnya berbasis nilai tambah.

Penguatan substitusi impor juga menjadi bagian penting dari strategi yang dijalankan. Dengan pasar domestik yang luas dan tenaga kerja yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri dalam negeri yang mampu menggantikan produk impor. Sinergi antara hilirisasi dan substitusi impor diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai target 8 persen sesuai visi Presiden Prabowo.

Kedua kebijakan ini, menurut analis, tidak berjalan terpisah, melainkan saling mendukung dalam satu rantai ekonomi yang terintegrasi. Kolaborasi antara koordinasi hilirisasi dan penguatan industri diyakini menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan inklusif, dengan dampak langsung pada kesejahteraan rakyat dan penguatan posisi Indonesia di kancah ekonomi global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya