Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sinyal Radio Misterius Terjauh dari Masa Awal Alam Semesta

Penelitian terbaru mengungkap gelombang radio cepat dari masa awal alam semesta, yang menempuh perjalanan lebih dari 10 miliar tahun sebelum terdeteksi di Bumi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 09.05 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 33x dibuka
Sinyal Radio Misterius Terjauh dari Masa Awal Alam Semesta📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sebuah gelombang radio cepat yang dikenal sebagai FRB 20240304B berhasil terdeteksi sebagai fenomena kosmik terjauh yang pernah tercatat. Sinyal ini berasal dari masa ketika alam semesta masih berusia sekitar 3 miliar tahun, menandai fase awal pembentukan struktur kosmik. Energi yang dipancarkan dalam hitungan milidetik setara dengan total radiasi Matahari selama bertahun-tahun, menunjukkan kekuatan ekstrem dari peristiwa yang mendorong munculnya gelombang tersebut.

Pengamatan dilakukan dengan teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan, yang kemudian dikonfirmasi oleh data dari teleskop ruang angkasa James Webb Space Telescope (JWST). Identifikasi galaksi asal menunjukkan bahwa sumbernya adalah galaksi muda yang sangat kecil, dengan aktivitas pembentukan bintang tinggi dan kandungan logam rendah—kondisi khas alam semesta awal. Peneliti menyatakan bahwa ledakan ini terjadi sebelum terbentuknya Bumi dan Matahari, menekankan skalanya yang luar biasa.

Menurut Themiya Nanayakkara dari Universitas Sydney, yang memimpin penelitian ini, sinyal tersebut membuka jendela baru untuk memahami kondisi kosmik pada masa awal. Ia menegaskan bahwa mekanisme yang menghasilkan FRB ini bisa terjadi di lingkungan galaksi muda dengan sifat ekstrem, termasuk medan magnet kuat atau peristiwa kehancuran bintang. Dari lebih dari 10 ribu FRB yang telah terdeteksi sejak 2007, hanya sebagian kecil yang berulang, sementara sisanya muncul sekali dan menghilang tanpa jejak.

Hingga kini, belum dapat dipastikan apakah FRB 20240304B adalah sinyal tunggal atau akan muncul kembali. Namun, keberadaannya memberi kontribusi besar terhadap pemetaan materi gelap dan distribusi materi di alam semesta jauh. Matthew Bailes dari Swinburne University menekankan bahwa FRB bukan hanya fenomena menarik secara ilmiah, tetapi juga alat penting untuk mengukur jumlah atom dan partikel yang tidak terlihat secara langsung.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya