Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Siswa Prancis Demo Besar, Tuntut Peningkatan Kualitas Pendidikan

Ribuan pelajar di lebih dari 1.200 sekolah Prancis menggelar protes massal menuntut perbaikan fasilitas, penambahan guru, dan reformasi sistem pendidikan nasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 17.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Siswa Prancis Demo Besar, Tuntut Peningkatan Kualitas Pendidikan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Aksi demonstrasi yang melibatkan ribuan pelajar SMA di seluruh Prancis telah mengguncang stabilitas operasional pendidikan dalam sepekan terakhir. Aksi yang dimulai dari sejumlah sekolah lycee menyebar cepat ke berbagai kota, dengan siswa memblokade pintu masuk sekolah dan menolak masuk ke kelas. Respons kepolisian pun tak terhindarkan, dengan penggunaan gas air mata untuk membubarkan kerumunan, memicu kritik atas kekerasan yang dilakukan terhadap anak-anak di bawah usia dewasa.

Kementerian Dalam Negeri melaporkan lebih dari 5.000 orang telah diamankan selama masa protes, sementara Menteri Pendidikan Édouard Geffray menyebut sekitar 735 lembaga pendidikan mengalami gangguan akibat aksi tersebut. Para pelajar menyoroti kondisi sekolah yang kian memburuk, termasuk kekurangan tenaga pengajar, fasilitas yang rusak, dan ketiadaan sarana dasar seperti kursi, toilet, serta perawat sekolah. Sejumlah siswa mengungkapkan bahwa hampir 10% jam pelajaran di sekolah menengah negeri tidak dapat dilaksanakan selama tahun ajaran 2024–2025, dengan sekitar 7,5% di antaranya disebabkan oleh tidak tersedianya guru pengganti.

Kondisi kelas yang padat, ruang belajar bocor, dan suhu panas saat musim kemarau menjadi salah satu pemicu kemarahan besar. Seorang siswa berusia 15 tahun di Pantin menggambarkan kelas yang berisi 35 orang tanpa cukup kursi, sementara rekan sekelasnya di Strasbourg menyebutkan kebocoran air dan toilet yang tidak mencukupi. Banyak peserta aksi menekankan bahwa anak-anak muda hanya ingin belajar dalam lingkungan yang layak, bukan terjebak dalam kondisi yang memprihatinkan secara fisik maupun akademik.

Selain kondisi fisik sekolah, para pelajar juga mengkritik sistem pendaftaran perguruan tinggi daring, Parcoursup, yang dinilai menimbulkan stres berlebihan dan tidak transparan. Namun, Menteri Geffray menyoroti tantangan dalam merespons gerakan ini karena tidak ada tuntutan nasional yang seragam. Ia menyebut perbedaan keluhan antar wilayah menjadi penghambat utama dalam mencari solusi menyeluruh. Aksi lanjutan rencananya akan digelar pada Selasa (6/10), menunjukkan bahwa gerakan ini bukan sekadar keluhan sesaat, melainkan ekspresi dari keresahan sistemik terhadap pendidikan di Prancis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya