Smartphone Canggih Tapi Cepat Usang
Meski desainnya tahan lama, performa smartphone menurun seiring waktu akibat baterai, perangkat lunak, dan desain yang sulit diperbaiki.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 17.48 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Kemajuan teknologi telah membuat ponsel pintar modern tampil lebih kokoh dan tahan air, namun efisiensi penggunaan jangka panjang tetap menjadi tantangan. Meski bingkai logam dan kaca tempered memberikan daya tahan eksternal yang baik, komponen internal seperti baterai lithium-ion mengalami degradasi alami setiap kali pengisian daya dilakukan. Setelah beberapa tahun, kapasitas penyimpanan energi berkurang signifikan, mengakibatkan waktu pakai yang lebih pendek dan kinerja sistem yang tidak stabil.
Perangkat lunak juga menjadi faktor penentu kecepatan ponsel menjadi usang. Update sistem operasi dan aplikasi yang semakin kompleks membutuhkan sumber daya perangkat keras yang lebih tinggi. Perangkat yang awalnya responsif bisa menjadi lambat atau sering error setelah pembaruan, bahkan sebelum komponen fisik rusak. Hal ini menciptakan persepsi bahwa ponsel sudah tidak layak pakai meski secara fisik masih utuh.
Desain unibody yang menjadi tren juga turut menyulitkan perbaikan. Komponen seperti baterai dan port pengisian daya tertanam rapat, sehingga membuka perangkat memerlukan alat khusus dan risiko kerusakan lebih tinggi. Biaya perbaikan yang tinggi membuat banyak pengguna memilih membeli perangkat baru daripada memperbaikinya. Dampaknya, siklus penggantian perangkat semakin pendek, meski perangkat sebelumnya belum rusak secara total.
Kendati desain dan material perangkat semakin canggih, kenyataannya ponsel pintar modern tidak lebih tahan lama dari sisi penggunaan optimal. Kombinasi antara degradasi baterai, beban perangkat lunak yang meningkat, dan desain yang tidak ramah perbaikan membuat perangkat cepat kehilangan nilai fungsional. Tujuan utama dari inovasi teknologi yang seharusnya memperpanjang umur pakai justru berbalik arah, mendorong konsumsi berkelanjutan yang lebih tinggi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Indonesia Dorong Keadilan Royalti Hak Cipta Global
Indonesia mengusung reformasi tata kelola royalti hak cipta secara adil dan transparan di tengah transformasi digital dan dominasi kecerdasan buatan.
7 Oktober 2026

Otak Tetap Sehat Meski Usia Bertambah
Penelitian menunjukkan usia biologis otak bisa lebih muda dari usia sebenarnya melalui gaya hidup sehat dan teknologi pemantauan canggih.
7 Oktober 2026

Data Center AI dan Konsumsi Air: Fakta yang Perlu Dipahami
Studi menunjukkan data center global konsumsi air tinggi, namun klaim "habiskan air" ditegaskan sebagai berlebihan oleh perusahaan teknologi.
7 Oktober 2026

Data Kesehatan Jadi Fondasi Inovasi Obat Berbasis AI
Indonesia dapat mempercepat pengembangan industri farmasi melalui pemanfaatan data kesehatan Covid-19 dan BPJS Kesehatan dengan dukungan kecerdasan buatan.
7 Oktober 2026
Berita Lainnya

Mahasiswa Dihukum 5 Bulan karena Edit Teks Meme Demo
Rabu, 7 Oktober 2026, 17.51 WITA

DPR Minta Evaluasi Pembebasan Bersyarat Pelaku Kekerasan Seksual di Pesantren
Rabu, 7 Oktober 2026, 17.51 WITA

Trump Akui Tak Paham Siapa Pemimpin Iran Saat Ini
Rabu, 7 Oktober 2026, 17.51 WITA

250 Ribu Pelajar dan Guru Turun ke Jalan Tuntut Perbaikan Pendidikan Prancis
Rabu, 7 Oktober 2026, 17.51 WITA

Polisi Prancis Didakwa Usai Remaja 14 Tahun Patah Rahang Saat Demo
Rabu, 7 Oktober 2026, 17.50 WITA

Trump Sebut LA dan San Diego Bisa Dihancurkan, Pemimpin California Kecam Keras
Rabu, 7 Oktober 2026, 17.50 WITA

Jokowi Bertemu Prabowo di Kertanegara, Fokus pada Stabilitas Nasional
Rabu, 7 Oktober 2026, 17.49 WITA

Rebecca Klopper Periksa Kembali Kasus Video Syur ke Bareskrim
Rabu, 7 Oktober 2026, 17.49 WITA

