Teknologi Tangkap Karbon Kurangi Emisi 95% di Pabrik Kimia
Teknologi penangkap karbon yang diuji coba di PT Petrokimia Gresik mampu menekan emisi karbon hingga 95 persen, dengan hasil sampingan berupa soda ash yang sebelumnya banyak diimpor.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 09.11 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Penerapan teknologi penangkap karbon di fasilitas produksi PT Petrokimia Gresik berhasil menurunkan emisi karbon dioksida hingga 95 persen, menurut hasil studi bersama mitra dari Jepang dan Taiwan. Teknologi ini dirancang khusus untuk menangani emisi dari sektor industri nonmigas, khususnya yang berasal dari proses produksi kimia. Penurunan emisi yang signifikan ini membuka peluang besar bagi transformasi lingkungan di sektor manufaktur tanpa menghentikan aktivitas produksi.
Dalam paparannya di Investor Daily Summit 2026, utusan khusus presiden bidang iklim dan energgi menekankan bahwa teknologi tersebut bukan hanya efektif, tetapi juga berpotensi diterapkan pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara. Dengan integrasi alat penangkap karbon, pembangkit listrik bisa tetap beroperasi secara berkelanjutan sambil meminimalkan dampak lingkungan. Hal ini menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasokan energi sekaligus memenuhi target pengurangan emisi nasional.
Salah satu nilai tambah dari teknologi ini adalah produksi produk sampingan bernilai tinggi, yaitu soda ash atau baking soda, yang selama ini masih bergantung pada impor. Dengan mengolah karbon dioksida menjadi bahan baku industri, proses ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mendukung ketahanan ekonomi nasional melalui pengurangan defisit perdagangan.
Pemerintah kini sedang menyusun skema insentif khusus untuk perusahaan yang menerapkan teknologi penangkap karbon, mengingat tingginya biaya awal implementasi. Langkah ini diharapkan mendorong adopsi lebih luas di berbagai sektor industri, termasuk yang menggunakan bahan bakar fosil. Teknologi ini, yang telah dikembangkan oleh berbagai negara termasuk Eropa, Jepang, dan Taiwan, menunjukkan bahwa solusi inovatif untuk perubahan iklim sudah ada dan siap diimplementasikan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

AI Ubah Kerja Kantor: Satu Jam Jadi Detik
SAP memperkenalkan sistem perusahaan otonom berbasis AI di ajang global, menunjukkan transformasi kerja kantor melalui otomasi berbasis bahasa alami.
7 Oktober 2026

Rekomendasi Liburan, Masih Lebih Percaya Manusia Daripada AI
Studi global menunjukkan 84 persen wisatawan di Inggris lebih percaya rekomendasi keluarga daripada AI saat merencanakan perjalanan.
7 Oktober 2026

IPOT X Revolusi Baru di Dunia Investasi Berbasis AI
PT Indo Premier Sekuritas meluncurkan IPOT X, aplikasi sekuritas berbasis AI yang mempermudah investor memahami pasar tanpa kompleksitas teknis.
7 Oktober 2026

Smartphone Canggih Tapi Cepat Usang
Meski desainnya tahan lama, performa smartphone menurun seiring waktu akibat baterai, perangkat lunak, dan desain yang sulit diperbaiki.
7 Oktober 2026
Berita Lainnya

Swasta Diperkuat, Hambatan Investasi Diselesaikan Langsung
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.18 WITA

Trump Sambut Kerja Sama Militer Turki-Pakistan untuk Arab Saudi
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.18 WITA

UU Perlindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Larangan Tahan Ijazah Jadi Sorotan
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.18 WITA

Pemerintah Siapkan Stimulus Tiket Pesawat Nataru 2026–2027
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.18 WITA

Jaguar Meluncurkan Type 01, Mobil Listrik Mewah dengan Jarak Tempuh 724 Km
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

Pembebasan Bea Masuk Suku Cadang Pesawat Dorong Efisiensi Operasional
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

Harga LPG Subsidi 3 Kg Tetap Stabil di Oktober 2026
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham POLA dan CSMI
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

