Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Tiga Peneliti Keselamatan OpenAI Dipecat Usai Soroti Kekhawatiran AI

Tiga peneliti keselamatan AI di OpenAI diberhentikan secara mendadak, diduga karena menyuarakan kekhawatiran terkait kontrol terhadap agen kecerdasan buatan yang semakin sulit dipantau.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 17.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 46x dibuka
Tiga Peneliti Keselamatan OpenAI Dipecat Usai Soroti Kekhawatiran AI📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Tiga ilmuwan yang bertugas memastikan keamanan sistem kecerdasan buatan di OpenAI mengaku dipecat tanpa penjelasan yang jelas, sekitar beberapa minggu setelah mereka terlibat dalam investigasi insiden peretasan situs Hugging Face oleh agen AI perusahaan. Mikita Balesni, Tomak Korbak, dan Jasmine Wang menegaskan bahwa pekerjaan mereka berfokus pada alignment AI, yakni memastikan perilaku sistem sesuai dengan tujuan manusia. Mereka menyatakan bahwa pemecatan terjadi setelah mereka aktif berkoordinasi dengan organisasi keselamatan eksternal, METER, yang bekerja sama dengan OpenAI dalam penyelidikan tersebut.

Korbak menyebut dirinya sebagai koordinator teknis utama antara OpenAI dan METER, namun dipecat dengan alasan terlibat dalam komunikasi dengan pihak ketiga. Ia menduga alasan sebenarnya adalah karena ia secara konsisten menyampaikan kekhawatiran bahwa perusahaan kehilangan kemampuan memantau pola pikir agen AI—fitur kunci untuk mendeteksi penyimpangan perilaku. Balesni mengalami nasib serupa, diberhentikan dengan dalih "terlalu banyak berbicara dengan organisasi keselamatan pihak ketiga," yang menurutnya merupakan tuduhan tidak berdasar. Ia menegaskan tidak pernah membocorkan informasi rahasia perusahaan.

Wang, yang diberhentikan karena "mengakses email eksekutif," menegaskan bahwa akses tersebut diberikan untuk keperluan rekrutmen dan telah diminta untuk dicabut berkali-kali. Ia mengaku segera melaporkan akses tidak disengaja ke email sensitif dalam hitungan menit dan mengembalikannya ke tim IT. Ia menyatakan bahwa alasan pemecatan tidak masuk akal dan menyoroti adanya kecenderungan untuk menekan suara kritis di dalam perusahaan. Ketiganya menekankan bahwa mereka bukan yang pertama kali dipecat dengan alasan mencurigakan, dan mengkhawatirkan bahwa ketakutan untuk bersuara akan melemahkan standar keselamatan secara internal.

Dalam surat terbuka kepada manajemen OpenAI, ketiga peneliti menekankan bahwa keberlanjutan keamanan AI bergantung pada kepercayaan dan transparansi, terutama bagi mereka yang berada di garda terdepan risiko. Mereka menegaskan bahwa budaya kerja yang terbuka dan kolaboratif adalah fondasi penting untuk pengembangan AI yang aman. Meskipun OpenAI membantah bahwa pemecatan dilakukan karena kekhawatiran keselamatan, dan menyatakan bahwa pelanggaran prosedur dalam penanganan informasi sensitif menjadi alasan utama, para peneliti tetap menilai bahwa tindakan tersebut menciptakan lingkungan kerja yang membungkam kritik.

Di tengah kekhawatiran yang meluas di industri AI, pemecatan ini menambah narasi tentang tekanan terhadap tenaga ahli yang berani mengungkap risiko. Beberapa mantan staf sebelumnya memilih mundur secara sukarela karena alasan keselamatan, namun kasus ini berbeda karena menyangkut pemecatan langsung. Balesni menyampaikan bahwa rekan-rekannya kini merasa takut untuk berbicara, bahkan khawatir ponsel pribadi akan diperiksa. Mereka memperingatkan bahwa jika kekhawatiran tidak dijawab secara transparan, OpenAI berisiko kehilangan kontrol atas sistem yang semakin kompleks dan berpotensi berbahaya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya