Minggu, 11 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Trump Dorong Ganti Pemimpin Ukraina Usai Kesepakatan Solar dengan Rusia

Desakan Trump agar Ukraina mengganti presiden muncul usai kesepakatan pelonggaran sanksi ekspor solar Rusia, yang dianggap mendukung Moskow dalam perang dan memicu reaksi keras dari Kyiv.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 12.05 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Trump Dorong Ganti Pemimpin Ukraina Usai Kesepakatan Solar dengan Rusia📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan pergantian kepemimpinan di Ukraina dengan menilai Presiden Volodymyr Zelensky gagal menciptakan kesepakatan strategis yang menguntungkan negaranya. Pernyataan itu disampaikan di Gedung Putih, satu hari setelah Trump mengumumkan kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melonggarkan pembatasan ekspor solar dari Moskow. Desakan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Kyiv, menyusul kebijakan yang dianggap merugikan kepentingan militer dan politik Ukraina.

Zelensky mengecam kebijakan tersebut sebagai langkah yang justru memperkuat Rusia saat konflik masih berlangsung. Ia menekankan bahwa pelonggaran sanksi justru berdampak pada keamanan warga sipil, terutama setelah serangan udara Rusia di Zaporizhzhia yang menewaskan 20 orang, termasuk tiga anak-anak. Serangan itu, menurutnya, merupakan balasan atas kebijakan yang dianggap memperlemah posisi Ukraina secara strategis.

Pemerintah Rusia menyambut kesepakatan itu dengan segera mencabut sebagian larangan ekspor solar, sekaligus menaikkan harga energi secara signifikan. Kenaikan harga tersebut menjadi tekanan politik besar bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu AS bulan depan. Namun, di sisi lain, langkah itu juga memicu kontroversi dalam lingkaran politik AS, khususnya terkait konsistensi kebijakan luar negeri yang selama ini menekankan tekanan ekonomi terhadap Moskow.

Trump menegaskan bahwa Zelensky memiliki potensi besar untuk menyelesaikan konflik, tetapi tidak melakukannya karena alasan tertentu. Ia menilai sudah tiba waktunya Ukraina memiliki pemimpin baru yang lebih terbuka terhadap negosiasi. Pernyataan itu dikeluarkan dalam konteks politik domestik AS, di mana kebijakan luar negeri menjadi isu krusial dalam kampanye pemilu. Namun, di Kyiv, kesepakatan tersebut dianggap sebagai pengkhianatan terhadap prinsip perang yang telah dibangun selama lebih dari dua tahun.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya