Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Upin dan Ipin Dorong Kesadaran Jaga Udara Sejak 2013

Serial animasi Upin dan Ipin kembali menyoroti bahaya kabut asap akibat kebakaran hutan sejak 2013 melalui edukasi kesehatan dan peringatan lingkungan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 15.33 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 11x dibuka
Upin dan Ipin Dorong Kesadaran Jaga Udara Sejak 2013📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Upin dan Ipin, dua tokoh fiksi dari Kampung Durian Runtuh, telah menjadi wajah edukasi lingkungan sejak lebih dari satu dekade lalu. Melalui serial animasi yang tayang sejak 2013, mereka secara konsisten mengangkat isu kabut asap atau jerebu sebagai ancaman serius bagi kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Episode khusus berjudul *Bahaya Jerebu*, yang pertama kali dirilis Oktober 2013, menjadi bagian dari season ketujuh dan menyuguhkan narasi edukatif tentang penyebab, dampak, serta langkah pencegahan terhadap polusi udara.

Dalam narasi tersebut, tokoh-tokoh seperti Tok Dalang, Kak Ros, dan Cikgu Melati turut membagikan penjelasan ilmiah mengenai asal mula jerebu. Mereka menekankan bahwa kebakaran lahan sering kali dipicu oleh tindakan manusia, seperti pembakaran sampah dan pembuangan puntung rokok sembarangan. Aksi tersebut menyebabkan kabut asap yang tidak hanya mengganggu visibilitas, tetapi juga menimbulkan iritasi mata, batuk, dan demam, terutama pada anak-anak dan lansia.

Tidak hanya mengedukasi, Upin dan Ipin juga mengambil posisi kritis terhadap kondisi lingkungan yang terus memburuk. Sejak September 2026, mereka secara rutin mengunggah konten di media sosial yang menggambarkan kondisi asap yang melanda wilayah Malaysia akibat kebakaran hutan di Indonesia. Lima kali dalam kurun waktu singkat, mereka menyampaikan peringatan melalui unggahan edukatif dan sindiran halus, menekankan bahwa kebakaran lahan belum berhenti meski telah berlangsung bertahun-tahun.

Salah satu unggahan terbaru berisi panduan praktis bertajuk *Cara Lindungi Diri dari Jerebu*, yang menyebut lima langkah utama: menghindari paparan sinar matahari langsung, konsumsi air putih yang cukup, menjaga daya tahan tubuh, penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta menjaga kebersihan pribadi. Langkah-langkah ini disampaikan sebagai respons langsung terhadap penurunan kualitas udara yang terus terjadi di kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia telah menerapkan operasi modifikasi cuaca berbasis dry ice untuk mengurangi penumpukan kabut asap dan meningkatkan jarak pandang. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga 21 Oktober 2026, tercatat sekitar 1.481 hektare lahan masih terbakar di enam provinsi prioritas karhutla—termasuk Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau—dengan sekitar 1.000 hektare masih belum berhasil dipadamkan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya