Vance Akui Perbedaan Pendapat dengan Trump Soal Kebijakan Iran
Wakil Presiden AS JD Vance mengungkapkan perbedaan pandangan dengan mantan Presiden Donald Trump terkait pendekatan terhadap Iran, sambil menekankan pentingnya mengakui pencapaian politik yang dianggap signifikan.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 15.24 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 32x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengungkapkan secara terbuka adanya ketidaksepakatan dengan mantan Presiden Donald Trump dalam membahas kebijakan terhadap Iran. Dalam sesi diskusi dengan mantan juru bicara Gedung Putih Sean Spicer, Vance menyatakan bahwa perbedaan pendapat dalam isu strategis seperti perang atau diplomasi tidak selalu mengindikasikan konflik, melainkan bagian dari proses pertimbangan politik yang sehat. Ia menekankan bahwa kritik terhadap kebijakan tertentu tidak harus meniadakan pencapaian lain yang nyata.
Pernyataan itu muncul dalam konteks perdebatan mengenai sikap publik terhadap konflik Timur Tengah, khususnya terkait potensi eskalasi dengan Iran. Vance menyebut bahwa komentator sayap kanan Tucker Carlson, yang dikenal kritis terhadap intervensi militer, memiliki kekecewaan mendalam terhadap pendekatan Trump terhadap isu tersebut. Menurutnya, Carlson merasa sangat terganggu oleh kebijakan luar negeri yang dianggapnya berisiko tinggi, namun Vance menekankan bahwa perbedaan itu bisa menjadi ruang diskusi yang produktif.
Dalam percakapan pribadi, Vance menekankan pentingnya mengakui keberhasilan yang diraih oleh Trump, meskipun dalam konteks yang berbeda. Ia menyoroti penutupan perbatasan sebagai langkah yang menurutnya efektif dalam mengendalikan arus migrasi, serta penghentian kebijakan diskriminasi rasial terhadap kelompok kulit putih dalam seleksi penerimaan di perguruan tinggi sebagai bentuk keadilan yang penting. Menurutnya, mengabaikan pencapaian tersebut hanya karena masalah lain adalah kekeliruan strategis.
Di tengah ketegangan geopolitik yang memanas, harga minyak mentah dunia sempat mencapai level USD110 per barel, angka tertinggi sejak bulan Mei. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang menunjukkan sensitivitas ekonomi global terhadap dinamika politik di wilayah tersebut.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait
Ai Lian Rayakan Ulang Tahun ke-7 dengan Perayaan Khusus di Chongqing
Panda raksasa Ai Lian merayakan ulang tahun ke-7 di Taman Tematik Locajoy, Chongqing, dengan menu spesial dan kehadiran pengunjung.
24 Oktober 2026

Militer AS Larang Taruhan Berbasis Informasi Rahasia
Menteri Perang AS melarang keras anggota militer menggunakan informasi sensitif untuk bertaruh di platform prediksi, setelah skandal keuntungan miliaran dari taruhan berbasis intelijen.
24 Oktober 2026

Iran Diklaim Perkuat Aksi Target Warga AS di Berbagai Wilayah
Intelijen AS memperingatkan peningkatan upaya Iran menargetkan warga negara Amerika di Timur Tengah dan sejumlah negara lain, menyusul meningkatnya ketegangan bilateral.
24 Oktober 2026

Jajak Pendapat Akhir Sebelum Pemilu Israel Tunjukkan Kekuatan Oposisi Melonjak
Jajak pendapat terbaru menunjukkan blok Netanyahu anjlok ke 48 kursi, sementara oposisi Yahudi naik ke 54 kursi, menandai pergeseran signifikan menjelang pemilu 27 Oktober.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

