Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Vance Akui Perbedaan Pendapat dengan Trump Soal Kebijakan Iran

Wakil Presiden AS JD Vance mengungkapkan perbedaan pandangan dengan mantan Presiden Donald Trump terkait pendekatan terhadap Iran, sambil menekankan pentingnya mengakui pencapaian politik yang dianggap signifikan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 15.24 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 32x dibuka
Vance Akui Perbedaan Pendapat dengan Trump Soal Kebijakan Iran📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengungkapkan secara terbuka adanya ketidaksepakatan dengan mantan Presiden Donald Trump dalam membahas kebijakan terhadap Iran. Dalam sesi diskusi dengan mantan juru bicara Gedung Putih Sean Spicer, Vance menyatakan bahwa perbedaan pendapat dalam isu strategis seperti perang atau diplomasi tidak selalu mengindikasikan konflik, melainkan bagian dari proses pertimbangan politik yang sehat. Ia menekankan bahwa kritik terhadap kebijakan tertentu tidak harus meniadakan pencapaian lain yang nyata.

Pernyataan itu muncul dalam konteks perdebatan mengenai sikap publik terhadap konflik Timur Tengah, khususnya terkait potensi eskalasi dengan Iran. Vance menyebut bahwa komentator sayap kanan Tucker Carlson, yang dikenal kritis terhadap intervensi militer, memiliki kekecewaan mendalam terhadap pendekatan Trump terhadap isu tersebut. Menurutnya, Carlson merasa sangat terganggu oleh kebijakan luar negeri yang dianggapnya berisiko tinggi, namun Vance menekankan bahwa perbedaan itu bisa menjadi ruang diskusi yang produktif.

Dalam percakapan pribadi, Vance menekankan pentingnya mengakui keberhasilan yang diraih oleh Trump, meskipun dalam konteks yang berbeda. Ia menyoroti penutupan perbatasan sebagai langkah yang menurutnya efektif dalam mengendalikan arus migrasi, serta penghentian kebijakan diskriminasi rasial terhadap kelompok kulit putih dalam seleksi penerimaan di perguruan tinggi sebagai bentuk keadilan yang penting. Menurutnya, mengabaikan pencapaian tersebut hanya karena masalah lain adalah kekeliruan strategis.

Di tengah ketegangan geopolitik yang memanas, harga minyak mentah dunia sempat mencapai level USD110 per barel, angka tertinggi sejak bulan Mei. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang menunjukkan sensitivitas ekonomi global terhadap dinamika politik di wilayah tersebut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya