Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Vape Berpotensi Picu Diabetes, Studi BRIN Soroti Dampak Jangka Panjang

Studi awal BRIN menemukan vape dapat mengganggu produksi insulin dan memicu resistensi gula darah, menjadi peringatan serius bagi pengguna muda meski efeknya tidak langsung terlihat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 15.25 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Vape Berpotensi Picu Diabetes, Studi BRIN Soroti Dampak Jangka Panjang📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Penelitian awal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa penggunaan rokok elektrik berpotensi memicu gangguan metabolisme gula darah, termasuk resistensi insulin dan risiko diabetes di masa depan. Temuan ini menyoroti bahaya vape yang kerap dianggap lebih aman dibanding rokok konvensional, terutama bagi kalangan muda. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa aerosol dari cairan vape dapat merusak sel pankreas dan mengganggu kinerja hormon insulin, yang berperan penting dalam pengaturan kadar glukosa dalam darah.

Dalam uji in-vitro, BRIN menguji 13 jenis cairan vape dari berbagai merek dan rasa. Hasilnya menunjukkan 92% sampel menunjukkan toksisitas langsung terhadap sel paru-paru, sementara 78% mampu meningkatkan produksi molekul TNF-α—penanda peradangan kronis. Hal ini mengindikasikan bahwa paparan vape tidak hanya merusak jaringan pernapasan, tetapi juga memicu respons inflamasi yang dapat menumpuk seiring waktu.

Lebih lanjut, penelitian terhadap sel pankreas tikus (MIN6) mengungkap bahwa 69% sampel vape menimbulkan efek toksik dan menyebabkan penurunan produksi insulin hingga sekitar 20%. Seluruh sampel juga menunjukkan penekanan sekresi insulin, yang berpotensi memicu kenaikan kadar gula darah secara kronis. Kondisi ini menjadi tanda awal terjadinya gangguan pengaturan gula darah, meskipun belum menandakan diabetes secara langsung.

Data dari Profil Statistik Kesehatan 2025 menunjukkan pengguna vape terbanyak berada pada rentang usia 18–59 tahun, dengan tren yang terus meningkat. Meski jumlah pengguna rokok tembakau masih lebih tinggi, perluasan penggunaan vape, terutama di kalangan muda, memerlukan perhatian serius terhadap kesehatan jangka panjang. Arif Satria, Kepala BRIN, menegaskan bahwa dampak vape terhadap diabetes dapat mencapai 100% jika paparan berulang, sehingga perlu regulasi yang lebih ketat.

Seorang mantan pengguna vape, Anggara (29), mengungkapkan bahwa setelah berhenti memakai vape dan menjalani olahraga ringan, kadar gula darahnya kembali stabil. Ia menyadari bahwa resistensi insulin yang dialaminya adalah akumulasi dari penggunaan jangka panjang, bukan efek instan. Hal ini mendukung temuan ilmiah bahwa dampak vape tidak terlihat seketika, tetapi menumpuk secara perlahan hingga mengancam fungsi organ vital.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya