Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Wabah Ebola Bundibugyo di Kongo Tembus 8.000 Kasus

Wabah Ebola yang disebabkan virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo telah mencatat 8.067 kasus dan 3.901 kematian hingga 26 September 2026, dengan tingkat kematian di atas 48 persen.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 15.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Wabah Ebola Bundibugyo di Kongo Tembus 8.000 Kasus📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wabah Ebola yang kini melanda Republik Demokratik Kongo telah mencapai angka kritis, dengan total 8.067 kasus terkonfirmasi dan 3.901 korban jiwa hingga akhir bulan September 2026. Penyebaran penyakit ini terjadi di 63 zona kesehatan yang tersebar di tujuh dari 26 provinsi, menandai eskalasi yang signifikan dalam sejarah wabah ebola di negara tersebut. Ini merupakan wabah ke-17 yang tercatat sejak pertama kali muncul, sekaligus yang paling mematikan dalam rentang waktu terdekat.

Kasus terkini disebabkan oleh spesies virus Bundibugyo (BDBV), salah satu dari tiga jenis virus Ebola yang mampu menular ke manusia. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 2007 setelah wabah di distrik Bundibugyo, Uganda, yang memberi nama pada strain tersebut. Meskipun lebih jarang dibandingkan virus Ebola (EBOV), Bundibugyo memiliki potensi tinggi untuk menyebabkan wabah serius, seperti yang kini terjadi di Kongo.

Gejala awal infeksi oleh virus ini tidak spesifik dan sering menyerupai penyakit infeksi lain, seperti demam tinggi, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan gangguan tenggorokan. Dalam perkembangannya, pasien dapat mengalami muntah, diare, ruam kulit, serta disfungsi hati dan ginjal. Pada tahap lanjut, terjadi perdarahan internal maupun eksternal, yang meningkatkan risiko kematian. Masa inkubasi berkisar antara 2 hingga 21 hari, dengan rata-rata 8 hingga 10 hari, sehingga deteksi dini menjadi tantangan besar.

WHO memperingatkan bahwa tingginya angka kematian, khususnya di tengah masyarakat, mencerminkan hambatan dalam deteksi dini dan penanganan cepat. Faktor utama yang memperparah situasi adalah keterbatasan tenaga kesehatan dan infrastruktur kesehatan di wilayah terdampak. Penularan utama terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, termasuk darah, keringat, dan cairan tubuh lainnya, yang menuntut protokol isolasi ketat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya