Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Wall Street Picu Pelemahan Bursa Asia

Bursa Asia melemah pada perdagangan Jumat (23/10/2026) menyusul koreksi tajam saham teknologi AS akibat kekhawatiran pendanaan infrastruktur kecerdasan buatan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Wall Street Picu Pelemahan Bursa Asia📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pasar saham Asia dibuka dengan tekanan pada Jumat (23/10/2026), mengikuti tren pelemahan yang terjadi di Wall Street. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap besarnya kebutuhan pendanaan untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan, yang mulai menekan valuasi saham-saham teknologi besar di Amerika Serikat. Investor memperhatikan tekanan finansial yang muncul dari proyek AI skala besar, terutama dalam segmen neocloud yang membutuhkan modal tinggi.

Indeks utama di kawasan mencatat penurunan signifikan, dengan Kospi Korea Selatan turun 2,42%, Nikkei 225 Jepang melemah 0,49%, dan S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,21%. Di pasar AS, saham-saham raksasa teknologi mengalami koreksi tajam, dengan Nvidia anjlok 4,4%, Alphabet melemah 3,2%, dan Advanced Micro Devices (AMD) merosot hingga 8,1% dalam satu sesi. Kejatuhan ini mencerminkan ketegangan antara permintaan modal yang tinggi dan ketersediaan dana yang terbatas.

CEO Nvidia, Jensen Huang, mengungkapkan bahwa tantangan utama saat ini bukan pada permintaan pasar, melainkan pada ketersediaan modal untuk menopang ekspansi infrastruktur AI. Ia menyatakan bahwa kebutuhan pendanaan jauh melampaui kapasitas pasar saat ini, terutama di sektor neocloud yang menjadi fondasi pengembangan sistem kecerdasan buatan. Di sisi lain, Ed Yardeni dari Yardeni Research menilai pasar saham AI telah memasuki fase gelembung, namun menekankan bahwa koreksi tidak otomatis berujung pada krisis ekonomi.

Pergerakan pasar obligasi AS menunjukkan pergeseran preferensi investor terhadap aset aman. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun 18,5 basis poin menjadi 4,961%, sementara tenor 30 tahun turun 15 basis poin dan tenor dua tahun terkoreksi 17,5 basis poin. Sementara itu, harga minyak mentah Brent melonjak 4% dan menutup di level US$113,17 per barel, mencatat penutupan tertinggi sejak Mei, didorong oleh laporan soal rencana serangan baru terhadap Iran yang memperburuk ketegangan regional.

Di sisi ekonomi, pasar tetap mengamati rilis akhir indeks sentimen konsumen University of Michigan, yang menjadi salah satu indikator kunci untuk menilai kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi AS. Sementara itu, indeks S&P 500 di AS berada dalam jalur kenaikan tipis di bawah 0,1% untuk pekan ini, Nasdaq tercatat turun 0,5%, dan Dow Jones Industrial Average menunjukkan penguatan 1,7%.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya