Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Wapres AS Akui Gagal Atasi Ancaman Drone Iran

Wakil Presiden AS JD Vance mengakui kegagalan strategi militer dalam menghadapi serangan drone Iran, termasuk kesalahan penempatan pasukan dan kegagalan komunikasi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 101x dibuka
Wapres AS Akui Gagal Atasi Ancaman Drone Iran📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance secara terbuka mengakui adanya kegagalan dalam pendekatan militer AS terhadap ancaman drone Iran, yang telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa di wilayah Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan dalam sesi wawancara dengan CBS News, ketika ia menanggapi keluhan dari keluarga prajurit AS yang gugur akibat serangan drone di basis militer di Kuwait.

Vance menyebut bahwa sistem komunikasi dan penyebaran informasi dinilai tidak efektif, menyebabkan keluarga korban tidak mendapatkan data penting secara tepat waktu. Ia menegaskan bahwa setiap kegagalan dalam operasional militer akan ditangani secara serius dan diperbaiki secara menyeluruh. Peristiwa ini menjadi bagian dari kritik terhadap kebijakan penempatan pasukan yang dianggap rentan terhadap serangan asimetris.

Dalam kesempatan tersebut, Vance mengakui bahwa lokasi penempatan pasukan AS di kawasan Timur Tengah telah menunjukkan kelemahan strategis. Ia mengakui bahwa keputusan penempatan tersebut merupakan kesalahan besar yang seharusnya dapat dicegah, dan kini telah dilakukan penyesuaian guna meningkatkan perlindungan dan efektivitas operasional.

Serangan drone Iran yang mulai meningkat sejak Februari lalu telah menewaskan setidaknya 21 personel militer AS, menurut laporan Middle East Monitor. Iran memanfaatkan taktik perang asimetris dengan meluncurkan drone murah dalam jumlah besar, yang mampu melumpuhkan sistem pertahanan udara canggih AS. Hasilnya, AS mengalami kerugian besar, baik dari segi anggaran maupun kapasitas pertahanan.

Menurut perkiraan Kantor Anggaran Kongres AS (CBO), stok rudal pencegat militer AS kini hanya tersisa sekitar sepertiga dari kapasitas awal. Hal ini mendorong perubahan taktik militer secara signifikan, termasuk penyesuaian strategi pertahanan dan pengembangan sistem baru untuk menghadapi ancaman dari drone berbiaya rendah yang tersebar luas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya