Warga Austria Gelar Demonstrasi Besar Tolak Pemotongan Dana Pendidikan
Lebih dari 50 ribu warga Austria turun ke jalan menolak pengurangan anggaran pendidikan, menekan pemerintah agar menaikkan dana sebesar 18 miliar euro untuk menanggulangi dampak inflasi.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 21.01 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 28x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Ribuan warga Austria, termasuk mahasiswa, staf akademik, dan anggota komunitas ilmiah dari berbagai daerah federal, menggelar aksi protes besar-besaran di depan kampus utama Universitas Teknologi Wina pada Kamis (22/10). Aksi yang dimulai pukul 15.00 waktu setempat digelar atas inisiatif Persatuan Mahasiswa Nasional Austria (OH) sebagai respons terhadap kebijakan pemotongan anggaran pendidikan yang diumumkan pemerintah federal.
Demonstrasi ini tidak hanya melibatkan kalangan akademik dari Wina, tetapi juga melibatkan perwakilan dari berbagai perguruan tinggi di seluruh negara bagian Austria. Serikat Pekerja Pelayanan Publik turut mendukung dengan menyediakan transportasi bagi para doktor dan staf yang berpartisipasi. Kegiatan ini mendapat dukungan resmi dari administrasi kampus, termasuk izin cuti bagi peserta aksi tanpa konsekuensi akademik atau kerja.
Ketua OH, Viktoria Kudrna, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap merugikan kualitas pendidikan tinggi. Ia menyebut pemotongan anggaran berisiko memangkas ragam program studi, memperkecil layanan pendukung mahasiswa, serta memperburuk kondisi kerja akademik. Dampak nyata telah dirasakan, seperti pengurangan jam operasional perpustakaan dan minimnya lowongan kerja baru di lingkungan kampus.
Pemerintah Federal Austria telah menetapkan anggaran pendidikan untuk periode 2028–2030 sebesar 16 miliar euro (sekitar Rp322 triliun). Namun, institusi pendidikan menilai angka ini belum cukup untuk menyeimbangkan tekanan inflasi, dan menuntut kenaikan menjadi 18 miliar euro (sekitar Rp362 triliun) guna menjaga kualitas dan aksesibilitas pendidikan tinggi. Aksi massa ini menjadi bentuk tekanan publik terhadap kebijakan yang dianggap tidak berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Ngatiyem Bangkitkan Jamu H’Dayah dari Pengalaman Sakit Suami
Pelaku UMKM asal Ciawi, Bogor, mengembangkan jamu instan H’Dayah berbasis herbal setelah suaminya sembuh dari gangguan paru-paru dan hati setelah mengonsumsi racikan kunyit putih dan jahe merah.
24 Oktober 2026

Peradi SAI dan TP PKK Gelar Sosialisasi Hukum di Bali
Sosialisasi Keluarga Sadar Hukum digelar di Denpasar untuk tingkatkan pemahaman masyarakat terhadap pencegahan kekerasan fisik dan verbal melalui edukasi hukum.
24 Oktober 2026

Pemanggilan Ulang Dandhy Laksono Dijadwalkan 27 Oktober
Polda Metro Jaya mengatur ulang pemanggilan sutradara film Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono, untuk klarifikasi terkait laporan narasumber yang menilai karya tersebut melanggar privasi.
24 Oktober 2026

Jelang Bulan Pemburu, Cuaca Jakarta Diprakirakan Berawan dengan Hujan Malam
BMKG memperkirakan Jakarta berawan hingga berawan tebal pada 24 Oktober 2026, dengan potensi hujan di Selatan dan Timur malam hari, menjelang fenomena Hunter's Moon.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

BEI Pantau Transaksi Saham PNSE dan DKHH Akibat Volatilitas Ekstrem
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Agoes Projosasmito Akuisisi Saham BRMS Senilai Rp2,4 M
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Inflasi Jepang Naik, BOJ Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Menko Airlangga: Bukan Hanya MSCI yang Menentukan Kredibilitas Pasar Modal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

BRI Perluas Akses Magang Nasional untuk Generasi Muda
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

