Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Warga RI, Malaysia, Singapura Keluhkan Dampak Asap Karhutla

Warga dari tiga negara menyampaikan pengalaman langsung terdampak asap kebakaran hutan dan lahan yang meluas, menimbulkan krisis kesehatan, keterbatasan air, dan gangguan aktivitas sehari-hari.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 09.08 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Warga RI, Malaysia, Singapura Keluhkan Dampak Asap Karhutla📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda berbagai wilayah di Indonesia, dengan dampak yang merambat hingga ke negara tetangga. Masyarakat dari Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara mengungkapkan kondisi kesehatan yang memburuk, termasuk meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak dan lansia. Di Pontianak, seorang relawan pemadam kebakaran menyebutkan bahwa asap mulai kembali muncul setelah sebelumnya kondisi terkendali, menyebabkan sekolah diliburkan dan kualitas air terganggu hingga berubah asin.

Di Kabupaten Ogan Komering Ilir, warga Desa Lebung Itam melaporkan keberlangsungan asap yang terus-menerus selama berbulan-bulan, terutama akibat kebakaran lahan gambut. Kondisi ini memaksa mereka tinggal di dalam rumah, dengan aktivitas luar ruangan hampir tidak mungkin dilakukan. Salah satu warga mengungkapkan bahwa istrinya yang memiliki riwayat asma harus menahan serangan sesak napas setiap kali udara tercemar. Upaya penanganan pun terhambat karena keterbatasan air, bahkan penggalian sumur manual hingga kedalaman empat meter tidak menghasilkan air bersih.

Di Palembang, indeks pencemar udara (ISPU) mencapai level sangat berbahaya, mencapai 1702 pada pagi hari—angka tertinggi sepanjang tahun 2026. Warga setempat melaporkan lonjakan kasus ISPA, terutama pada anak-anak yang harus dirawat di rumah sakit dengan perawatan nebulizer. Pembelajaran tatap muka pun terpaksa dihentikan, digantikan dengan pembelajaran jarak jauh. Bahkan, asap yang menembus masker N95 membuat pakaian dan perabot rumah tangga tetap tercemar, menunjukkan tingkat polusi yang sangat tinggi.

Dampak tidak hanya dirasakan di dalam negeri. Di Malaysia, seorang ayah melaporkan anak perempuannya harus dirawat di rumah sakit selama lima hari akibat sesak napas dan diagnosis bronkitis serta infeksi mycoplasma. Biaya perawatan mencapai hampir 10 ribu ringgit atau setara Rp43 juta. Di Singapura, meski jarak jauh dari titik api, kualitas udara terus fluktuatif, memicu kambuhnya gejala penyakit kronis seperti asma dan rinitis alergi. Seorang warga setempat mengaku harus mencari bantuan medis rutin hanya untuk tetap bisa beraktivitas normal.

Menurut data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per hari Minggu (4/10), masih terdapat 6.999 titik panas dan 196 titik api aktif tersebar di enam provinsi, termasuk Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla belum menunjukkan penurunan signifikan, dan kerentanan terhadap dampak lintas batas terus mengancam kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya