Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Wartawan Dianiaya Saat Liputan Kerusuhan Prancis

Wartawan dari Al Jazeera dan Euro News menjadi korban intimidasi fisik dan verbal saat meliput kerusuhan serta penjarahan di Prancis, dengan salah satu jurnalis terluka akibat benda yang dilempar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 15.32 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 48x dibuka
Wartawan Dianiaya Saat Liputan Kerusuhan Prancis📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sejumlah wartawan asing yang tengah melakukan peliputan di wilayah Prancis mengalami ancaman dan kekerasan saat meliput aksi penjarahan dan kerusuhan di kawasan perkotaan. Salah satunya adalah jurnalis Al Jazeera yang sedang memantau kondisi toko-toko dengan kaca pecah dan barang-barang yang dibawa kabur oleh massa. Saat berada di lokasi, ia dan kameramen mendapat perintah keras untuk berhenti meliput, disertai teriakan dari kerumunan yang menolak rekaman mereka.

Dalam situasi tegang tersebut, seorang warga menyeret kamera dan melemparkan benda yang mengenai kepala jurnalis tersebut. Meski terluka, ia tetap tenang dan menyatakan bahwa perlindungan seperti helm menjadi bagian penting dari perlengkapan kerja jurnalis di medan berbahaya. Ia kemudian terus bergerak menjauh dari lokasi sambil menerima ancaman secara terus-menerus.

Kasus serupa dialami wartawan Euro News yang melaporkan peristiwa serupa di Boulevard de Magenta, dekat supermarket yang diserbu. Saat merekam aksi penjarahan, mereka diserang secara fisik oleh massa. Juru kamera ditarik ke dinding, dipukul, dan alat rekamnya sempat dirampas. Meski menggunakan perlindungan seperti masker gas dan helm, korban tidak mengalami cedera serius. Namun, rekaman penting yang telah direkam hilang karena SD card tidak dikembalikan.

Kamera yang dicuri akhirnya dikembalikan oleh sekelompok pemuda yang menyaksikan tindakan pencurian tersebut. Namun, kehilangan data dari media penyimpanan tetap menjadi kerugian besar bagi proses peliputan dan dokumentasi kejadian. Peristiwa ini menegaskan risiko tinggi yang dihadapi jurnalis saat meliput konflik publik, terutama di tengah situasi yang tidak terkendali.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya