Minggu, 11 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Weda Bay Resmi Operasikan Pabrik Baterai untuk Ekspor

Proyek hilirisasi nikel di Weda Bay, Halmahera Tengah, mulai beroperasi komersial dengan fokus produksi baterai kendaraan listrik dan komponen energi terbarukan, menandai pencapaian penting dalam transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 09.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Weda Bay Resmi Operasikan Pabrik Baterai untuk Ekspor📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Peresmian operasi komersial empat fasilitas industri di Kawasan Industri Weda Bay pada 8 Oktober 2026 menjadi tonggak sejarah dalam perjalanan hilirisasi nikel di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto secara langsung menekan sirine peresmian, menandai berakhirnya fase perencanaan dan memasuki era produksi skala besar. Empat proyek yang mulai beroperasi mencakup pembangkit energi berbasis baterai, produksi baterai kendaraan listrik, pengolahan aluminium, dan manufaktur alat berat listrik untuk pertambangan.

Dalam kesempatan yang sama, pemerintah meluncurkan tujuh proyek baru yang menopang rantai produksi energi terbarukan secara utuh. Proyek-proyek tersebut mencakup pembuatan separator dan elektrolit baterai, kaca fotovoltaik untuk panel surya, serta kendaraan listrik khusus industri. Dengan total nilai investasi mencapai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp180 triliun, proyek ini menunjukkan komitmen strategis dalam membangun ekosistem energi bersih dalam negeri.

Transformasi ini berakar dari kebijakan larangan ekspor bijih nikel sejak 2020, yang mendorong pergeseran dari ekspor mentah menuju nilai tambah tinggi. Pada 2017, nilai ekspor nikel dan turunannya hanya 3,3 miliar dolar AS, naik drastis menjadi 33,9 miliar dolar AS pada 2024. Kenaikan ini didorong oleh pembangunan smelter dan pengolahan lanjutan yang menghasilkan produk antara seperti nikel sulfat dan kobalt, menjadi tulang punggung surplus perdagangan Maluku Utara.

Kini, dengan hadirnya fasilitas produksi separator dan elektrolit—disebut sebagai yang pertama di Indonesia—ekosistem baterai nasional dinilai telah mencapai tingkat kemandirian yang lebih tinggi. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menegaskan bahwa kehadiran komponen kritis ini menutup celah yang selama ini menjadi penghambat kemandirian teknologi. Dengan rantai produksi yang kini meliputi dari bahan baku hingga produk akhir, Indonesia berharap berada di jantung rantai pasok global, bukan hanya sebagai penyedia bahan mentah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya