WHO Minta Penjelasan soal Kematian Pekerja di Laboratorium Pes Siberia
Organisasi Kesehatan Dunia meminta Rusia memberikan klarifikasi terkait kematian pekerja di laboratorium penelitian pes di Irkutsk, sambil menekankan pentingnya transparansi dan pemantauan penyakit menular.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 21.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 BBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengajukan permintaan formal kepada otoritas Rusia untuk menyediakan informasi lebih lanjut terkait kematian seorang pekerja di sebuah fasilitas penelitian pes di wilayah Siberia. Kematian yang terjadi di laboratorium khusus ini memicu kekhawatiran global, meskipun penyebab pastinya belum dikonfirmasi. Pihak berwenang Rusia menyatakan bahwa semua individu yang sempat berinteraksi dengan korban telah dites dan hasilnya negatif terhadap infeksi pes pneumonik, namun belum ada penjelasan resmi mengenai kondisi medis yang mendasari kematian tersebut.
Pes pneumonik, bentuk paling ganas dari penyakit pes, merupakan infeksi paru-paru yang sangat mematikan dan dapat menyebar antarmanusia melalui percikan cairan pernapasan saat batuk. Gejala utamanya mencakup sesak napas, nyeri dada, dan batuk berdarah, dengan masa inkubasi yang sangat singkat—kadang hanya dalam 24 jam. Jika tidak segera ditangani, tingkat kematian bisa mendekati 100%, meskipun efektivitas antibiotik dalam pengobatan dini telah terbukti tinggi. Penyakit ini berasal dari bakteri *Yersinia pestis*, yang masih bertahan di berbagai spesies hewan pengerat di wilayah Afrika, Asia, dan Amerika.
Penelitian terhadap bakteri pes tetap relevan karena penyakit ini masih endemik di beberapa daerah, termasuk di Rusia, India, dan Amerika Serikat. Diperkirakan terjadi antara 1.000 hingga 3.000 kasus per tahun secara global, sebagian besar dalam bentuk pes bubonik. Namun, kemunculan kasus pes pneumonik, meski jarang, tetap menjadi ancaman serius, terutama dalam konteks laboratorium yang menangani patogen berbahaya. Para ilmuwan menekankan bahwa penelitian harus tetap berjalan untuk mengembangkan metode diagnosis, vaksin, serta memantau resistensi antibiotik.
WHO menekankan pentingnya transparansi dalam pelaporan insiden kesehatan yang melibatkan patogen berbahaya, terutama saat terjadi di fasilitas penelitian. Mereka menilai bahwa informasi yang terbuka dapat mencegah spekulasi berlebihan dan memperkuat kepercayaan publik. Sementara itu, otoritas Rusia menyatakan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium tidak menemukan mikroorganisme yang terkait dengan pekerjaan profesional korban, namun tetap menjalankan proses penyelidikan secara menyeluruh.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Anggun Dianugerahi Gelar Budaya Tertinggi Prancis
Penyanyi asal Indonesia, Anggun C. Sasmi, resmi menerima gelar Officier de l'Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi seni globalnya.
7 Oktober 2026

250 Ribu Pelajar dan Guru Turun ke Jalan Tuntut Perbaikan Pendidikan Prancis
Lebih dari 250 ribu siswa, guru, dan orang tua melakukan aksi di berbagai kota Prancis untuk menuntut perbaikan fasilitas sekolah dan kebijakan pendidikan, yang berujung pada bentrokan dengan polisi dan penggunaan gas air mata.
7 Oktober 2026

OpenAI Tambahkan Watermark Tersembunyi pada Konten AI
OpenAI memperkenalkan teknologi watermark tak terlihat pada teks hasil ChatGPT dan Codex untuk memenuhi regulasi Uni Eropa, dengan tujuan memastikan transparansi dan memudahkan identifikasi konten buatan AI.
7 Oktober 2026

Pramugari Berlutut Minta Maaf Usai Troli Sentuh Penumpang
Seorang pramugari China Eastern Airlines meminta maaf berulang kali hingga berlutut setelah troli makanan tidak sengaja menyentuh penumpang yang sedang tidur, memicu reaksi agresif dan perbincangan publik.
7 Oktober 2026
Berita Lainnya

Data Center AI Harus Seimbangkan Kebutuhan Publik dan Digital
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

Haji 2027: Biaya Pelunasan Turun Jadi Rp23 Juta Berkat Subsidi
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

Indonesia Siap Raih Ekspor Nikel US$40 Miliar pada 2026
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

550 WNI Ditahan di Kamboja Usai Operasi Anti-Penipuan Online
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

Mendagri Hadiri Taklimat Presiden untuk Perwira Tinggi TNI-Polri
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

Indonesia Kaya Gas, Tapi Masih Impor LPG
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

Pemerintah Tegas Atur Penggunaan Kontraktor Lokal di Sektor Pertambangan
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

IMF Beri Pinjaman US$189 Juta untuk Atasi Krisis Ekonomi Papua Nugini
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

