Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Zelensky Siap Jalani Pemilu Lagi Jika Perang Belum Berakhir

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan siap mencalonkan diri kembali jika pemilihan umum digelar selama konflik dengan Rusia berlangsung, menegaskan kewajiban membela negara hingga akhir perang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 23.04 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 38x dibuka
Zelensky Siap Jalani Pemilu Lagi Jika Perang Belum Berakhir📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan komitmennya untuk kembali maju dalam pemilihan umum jika proses demokrasi dilaksanakan di tengah situasi perang dengan Rusia. Meski masa jabatannya telah berakhir sejak Mei 2024, ia menolak mengadakan pemilu baru dengan alasan kondisi darurat militer yang masih berlaku sejak konflik memburuk pada Februari 2022. Zelensky menekankan bahwa keputusan untuk tetap menjabat bukan tanpa pertimbangan, melainkan respons terhadap ancaman keamanan nasional yang belum mereda.

Dalam wawancara eksklusif dengan acara ‘Meet the Press’ di NBC News, Zelensky menegaskan bahwa jika pemilu digelar selama masa perang, ia akan mencalonkan diri kembali. “Jika itu terjadi selama masa perang – tentu saja. Ini adalah tanggung jawab saya, karena saya harus membela negara saya dari awal hingga akhir perang ini,” tegasnya. Pernyataan ini menunjukkan tekadnya untuk tetap memimpin negara di tengah tantangan kritis, meskipun pernah berjanji hanya menjabat satu periode saat kampanye 2019.

Ia juga menyerukan gencatan senjata minimal selama 60 hari sebagai syarat penting untuk mempersiapkan pemilu yang adil dan transparan. Menurut Zelensky, waktu tersebut diperlukan untuk merevisi undang-undang pemilu dan membangun infrastruktur demokrasi yang stabil. Ia menilai proses demokrasi tidak bisa diabaikan, bahkan di tengah perang, karena keberlangsungan negara tergantung pada legitimasi yang diperoleh melalui pemilu.

Namun, Moskow menolak tuntutan tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut ide pemilu sebagai alat untuk memanfaatkan gencatan senjata demi memulihkan kekuatan militer dan mengatur ulang strategi perang. Ia menyatakan Rusia hanya bersedia menghentikan serangan pada hari pemungutan suara, tanpa kompromi atas durasi gencatan senjata. Meski demikian, Moskow tetap membuka ruang untuk kehadiran pemilu sebagai bagian dari proses politik, selama tidak digunakan sebagai dalih strategis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya