Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Anak Meninggal Akibat Asap Karhutla, Kekhawatiran Kesehatan Meningkat di Daerah Terdampak

Kasus kematian balita akibat gangguan pernapasan diduga akibat asap karhutla di Samarinda mengungkap krisis kesehatan yang belum tercatat secara menyeluruh di tujuh provinsi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 12.09 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 102x dibuka
Anak Meninggal Akibat Asap Karhutla, Kekhawatiran Kesehatan Meningkat di Daerah Terdampak📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang balita berusia 14 bulan meninggal dunia di Samarinda, Kalimantan Timur, setelah mengalami gejala sesak napas yang memburuk dalam beberapa hari terakhir. Kematian anak yang dikenal dengan panggilan Canin ini terjadi pada 15 Oktober 2026, tepat pada hari ulang tahunnya, menimbulkan duka mendalam bagi keluarganya dan menjadi sorotan atas dampak serius asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan anak-anak. Ibunya, Cindy, mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan putrinya memburuk sejak satu bulan lalu, saat kabut asap tebal mulai mengelilingi permukiman mereka di Kecamatan Palaran.

Menurut data resmi dari Dinas Kesehatan setempat, sejak Januari hingga 12 Oktober 2026, tercatat lebih dari 322 ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah Kalimantan Timur. Angka ini hanya mencatat kasus yang terlaporkan, sementara para ahli memperkirakan jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi karena banyak kasus yang tidak terdeteksi atau tidak dilaporkan. Dr. Fifi Sofiah, dokter spesialis anak, menekankan bahwa partikel PM2.5 dari asap karhutla sangat kecil—bahkan lebih halus dari sehelai rambut—dan dapat menembus sistem pernapasan hingga mencapai aliran darah, berpotensi menyebabkan komplikasi serius pada anak-anak.

Cindy menceritakan perjalanan medis anaknya dengan haru. Setelah dibawa ke puskesmas karena kesulitan bernapas, anaknya sempat dinyatakan tidak memerlukan rawat inap. Namun, kondisinya kian memburuk hingga harus dirujuk ke rumah sakit. Meski telah mendapat perawatan intensif, termasuk nebulizer dan perawatan di ruang PICU, nyawa Canin tidak dapat diselamatkan. Ia meninggal pada pukul 06.47 WITA, setelah sempat mengalami henti napas dan harus dilakukan resusitasi jantung.

Pihak rumah sakit menyatakan tidak dapat menetapkan secara pasti penyebab kematian sebagai akibat langsung dari asap karhutla, karena gangguan pernapasan pada anak dapat dipicu berbagai faktor, termasuk infeksi bakteri atau virus. Namun, narasumber dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) menegaskan bahwa situasi ini sudah memasuki kategori kedaruratan kesehatan, mengingat cakupan dampak yang luas dan tingginya angka rawat inap anak-anak. Cindy meminta agar pemerintah tidak meremehkan ancaman asap karhutla dan memprioritaskan penanganan medis darurat tanpa hambatan administratif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya