Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Arab Kecam Kunjungan Netanyahu ke Terowongan Al-Aqsa

Lima negara Arab mengecam kunjungan Netanyahu dan menteri Israel ke kompleks Al-Aqsa, menyatakan pelanggaran terhadap status quo dan kesucian situs suci.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 17.54 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Arab Kecam Kunjungan Netanyahu ke Terowongan Al-Aqsa📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersama istrinya, Sara, melakukan kunjungan ke terowongan di bawah Kota Tua Yerusalem Timur dan kompleks Masjid Al-Aqsa pada Sabtu (19/9), yang kemudian diunggah melalui akun media sosial resmi pada hari berikutnya. Kunjungan tersebut dilakukan saat menjelang perayaan Selichot Yahudi di Tembok Barat, yang dikenal umat Islam sebagai Tembok Al-Buraq. Aksi tersebut memicu protes luas, khususnya dari kelompok Hamas yang menegaskan bahwa Al-Aqsa secara keseluruhan—termasuk halaman, dinding, dan gerbang—tetap menjadi milik umat Islam secara historis dan religius.

Hamas menegaskan bahwa upaya Israel melalui penggalian, ritual keagamaan, dan narasi Alkitabiah tidak akan mampu mengubah identitas spiritual dan sejarah situs suci tersebut. Kelompok ini menekankan bahwa berbagai tindakan tersebut merupakan upaya sistematis untuk mengubah realitas sejarah, tetapi tetap gagal menekan keberadaan penanda keislaman di lokasi yang memiliki nilai sakral tinggi bagi umat Muslim di seluruh dunia. Kunjungan Netanyahu didampingi oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang bersama sejumlah warga Yahudi memasuki kompleks dengan pengawalan kepolisian Israel, memperkeruh ketegangan.

Respons dari negara-negara Arab terhadap aksi tersebut bersifat tegas dan seragam. Yordania menyebut tindakan Ben-Gvir sebagai pelanggaran nyata terhadap status quo historis dan hukum internasional, serta penodaan terhadap kesucian Al-Aqsa. Amman menekankan bahwa seluruh kompleks seluas 144 dunam atau 14,4 hektare merupakan tempat ibadah milik umat Islam, yang dikelola oleh Dewan Wakaf Islam Yerusalem. Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Mesir juga mengecam aksi tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan provokasi terhadap perasaan umat Muslim global. Masing-masing menyerukan intervensi internasional untuk mencegah eskalasi dan menegaskan dukungan terhadap negara Palestina berdasarkan batas 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Kementerian Luar Negeri Mesir memperingatkan bahwa aksi semacam ini dapat memicu kekerasan dan mengganggu stabilitas kawasan, terutama menjelang Yom Kippur—hari raya utama dalam agama Yahudi. Sebelumnya, otoritas Palestina dan Yordania telah mengingatkan bahwa upaya mengubah status quo atau membagi waktu dan ruang di Al-Aqsa merupakan langkah yang tidak dapat diterima. Peningkatan jumlah kunjungan Israel ke kompleks tersebut, terutama saat hari raya keagamaan, menjadi indikator meningkatnya ketegangan di wilayah yang sudah rentan konflik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya