Atlas Gempa Baru Ungkap Kerentanan Tanah Lebih Akurat
Kementerian ESDM meluncurkan dua atlas kebencanaan geologi dengan resolusi peta 10 kali lebih tinggi untuk mendukung perencanaan pembangunan yang aman dari risiko gempa.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 21.22 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 44x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi meluncurkan dua atlas kebencanaan geologi yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Dua produk ini dirancang untuk memberikan gambaran mendalam mengenai tingkat kerentanan wilayah terhadap gempa bumi, dengan fokus pada karakteristik tanah yang menentukan intensitas getaran saat terjadi gempa. Atlas tersebut disusun melalui kerja sama antara Kementerian ESDM dan Badan Geologi, menjadi acuan penting bagi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam mengelola risiko bencana.
Salah satu inovasi utama terdapat pada Atlas Peta Tapak Lokal Edisi Kedua, yang kini memiliki resolusi 30 meter—sebanding dengan peningkatan 10 kali lipat dibanding edisi sebelumnya yang berukuran 300 meter. Dengan skala yang lebih halus, peta ini mampu menangkap perbedaan kondisi tanah secara lokal, terutama melalui pengukuran kecepatan gelombang geser rata-rata hingga kedalaman 30 meter (Vs30). Data ini menjadi kunci dalam menentukan seberapa kuat suatu area akan bergetar saat gempa terjadi, sehingga sangat penting bagi perencanaan infrastruktur dan tata ruang.
Atlas Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi (KRBG) menyajikan informasi berbasis sumber gempa, sejarah kejadian gempa, struktur geologi, dan kondisi tanah. Informasi ini digunakan untuk memetakan zona berisiko tinggi, membantu pemerintah daerah merancang pembangunan yang sesuai dengan potensi bahaya. Dengan demikian, keputusan terkait pembangunan permukiman, jalan raya, gedung publik, maupun proyek strategis lainnya dapat mempertimbangkan faktor geologi sejak awal.
Wakil Menteri ESDM menekankan pentingnya integrasi sistem informasi kebencanaan secara nasional. Menurutnya, penggunaan peta yang terpadu akan memastikan seluruh pemangku kepentingan—mulai dari kementerian hingga masyarakat—berbasis data yang sama. Ia menyatakan bahwa kolaborasi dalam pengembangan sistem ini menjadi fondasi untuk inovasi dan peningkatan kapasitas mitigasi bencana secara menyeluruh. Kepala Badan Geologi menambahkan bahwa atlas ini juga menjadi referensi awal bagi proyek energi, termasuk pembangkit listrik dan jaringan transmisi, agar tidak berada di zona berisiko tinggi.
Kedua atlas telah diakses secara gratis melalui Portal Mitigasi Bencana Geologi. Akses terbuka ini diharapkan mendorong pemanfaatan data untuk kepentingan publik, baik dalam perencanaan pembangunan jangka panjang maupun keputusan individu dalam membangun rumah. Dengan informasi yang lebih akurat dan terperinci, tujuan utama—membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana—dapat dicapai secara kolektif dan berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Ngatiyem Bangkitkan Jamu H’Dayah dari Pengalaman Sakit Suami
Pelaku UMKM asal Ciawi, Bogor, mengembangkan jamu instan H’Dayah berbasis herbal setelah suaminya sembuh dari gangguan paru-paru dan hati setelah mengonsumsi racikan kunyit putih dan jahe merah.
24 Oktober 2026

Peradi SAI dan TP PKK Gelar Sosialisasi Hukum di Bali
Sosialisasi Keluarga Sadar Hukum digelar di Denpasar untuk tingkatkan pemahaman masyarakat terhadap pencegahan kekerasan fisik dan verbal melalui edukasi hukum.
24 Oktober 2026

Pemanggilan Ulang Dandhy Laksono Dijadwalkan 27 Oktober
Polda Metro Jaya mengatur ulang pemanggilan sutradara film Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono, untuk klarifikasi terkait laporan narasumber yang menilai karya tersebut melanggar privasi.
24 Oktober 2026

Jelang Bulan Pemburu, Cuaca Jakarta Diprakirakan Berawan dengan Hujan Malam
BMKG memperkirakan Jakarta berawan hingga berawan tebal pada 24 Oktober 2026, dengan potensi hujan di Selatan dan Timur malam hari, menjelang fenomena Hunter's Moon.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

BEI Pantau Transaksi Saham PNSE dan DKHH Akibat Volatilitas Ekstrem
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Agoes Projosasmito Akuisisi Saham BRMS Senilai Rp2,4 M
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Inflasi Jepang Naik, BOJ Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Menko Airlangga: Bukan Hanya MSCI yang Menentukan Kredibilitas Pasar Modal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

BRI Perluas Akses Magang Nasional untuk Generasi Muda
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

