Pemanasan Global Bisa Capai 2,8 Derajat Tanpa Aksi Cepat
Laporan PBB memperingatkan kenaikan suhu global hingga 2,8 derajat Celsius jika kebijakan iklim tidak dipercepat, dengan skenario terbaik hanya mampu membatasi pemanasan di 2,1 derajat.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 17.32 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 69x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - PBB mengungkapkan bahwa tanpa perubahan signifikan dalam kebijakan iklim global, suhu Bumi diperkirakan melonjak hingga 2,8 derajat Celcius pada akhir abad ini. Peringatan ini muncul dari laporan terbaru berjudul Emissions Gap Report 2026: The Point of Return, yang menilai bahwa upaya saat ini terlalu lambat untuk menekan emisi gas rumah kaca. Meskipun sejumlah negara telah menyampaikan komitmen dalam Nationally Determined Contributions (NDC), dampaknya terhadap penurunan emisi masih sangat terbatas.
Jika semua NDC yang telah dinyatakan dipenuhi secara penuh, proyeksi kenaikan suhu diperkirakan berada di kisaran 2,6 derajat Celcius. Skenario paling optimistis—yang mencakup target net zero tambahan—hanya mampu menekan pemanasan hingga 2,1 derajat, tetap jauh dari ambang batas 1,5 derajat yang diamanatkan dalam Perjanjian Paris. Peningkatan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti penarikan Amerika Serikat dari komitmen iklim global dan revisi data emisi historis yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Untuk tetap membatasi pemanasan di bawah 1,5 derajat Celcius, PBB menekankan perlunya pengurangan emisi yang lebih agresif. Dalam skenario yang memiliki peluang keberhasilan sekitar 50 persen, suhu global harus mencapai puncak sekitar 1,7–1,8 derajat pada pertengahan abad, lalu turun kembali ke bawah ambang tersebut pada tahun 2100. Untuk mencapai hal ini, emisi global harus berkurang 18 persen pada 2030, 45 persen pada 2035, dan 69 persen pada 2040 dibandingkan tingkat emisi tahun 2025.
Namun, realitas menunjukkan bahwa pemenuhan semua NDC saat ini hanya mampu mengurangi emisi sebesar 5–8 persen pada 2030 dan 11–15 persen pada 2035. Ini menunjukkan kesenjangan besar antara komitmen dan aksi nyata. Direktur Eksekutif PBB, Inger Anderson, menegaskan bahwa setiap tambahan sepersekian derajat dan setiap tahun lebih panas di atas 1,5 derajat akan memperparah dampak iklim ekstrem, termasuk banjir mematikan, gelombang panas, dan kebakaran hutan yang kian sering terjadi.
Laporan juga menyatakan bahwa setiap kelima emisi karbon dioksida yang tetap bertahan pada level saat ini dapat menaikkan puncak pemanasan global sekitar 0,1 derajat Celsius. Dengan demikian, tanpa aksi perubahan struktural dan percepatan implementasi kebijakan iklim, upaya untuk menahan pemanasan di kisaran 1,7–1,8 derajat akan menjadi semakin sulit.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Iran Diklaim Perkuat Aksi Target Warga AS di Berbagai Wilayah
Intelijen AS memperingatkan peningkatan upaya Iran menargetkan warga negara Amerika di Timur Tengah dan sejumlah negara lain, menyusul meningkatnya ketegangan bilateral.
24 Oktober 2026

Jajak Pendapat Akhir Sebelum Pemilu Israel Tunjukkan Kekuatan Oposisi Melonjak
Jajak pendapat terbaru menunjukkan blok Netanyahu anjlok ke 48 kursi, sementara oposisi Yahudi naik ke 54 kursi, menandai pergeseran signifikan menjelang pemilu 27 Oktober.
24 Oktober 2026

Larangan HP di Kelas Dorong Fokus dan Peningkatan Prestasi
Studi besar di India menunjukkan pelarangan penggunaan ponsel selama kelas meningkatkan fokus belajar dan hasil akademik mahasiswa, terutama bagi yang awalnya berprestasi rendah.
24 Oktober 2026

TBLA Bantah Kaitan dengan Kebakaran Lahan Melalui PML
TBLA menegaskan tidak memiliki keterlibatan dalam pengelolaan lahan atau kegiatan usaha PML, meski terdapat hubungan transaksi suku cadang dan kesamaan pemegang saham.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

BEI Pantau Transaksi Saham PNSE dan DKHH Akibat Volatilitas Ekstrem
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Agoes Projosasmito Akuisisi Saham BRMS Senilai Rp2,4 M
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Inflasi Jepang Naik, BOJ Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Menko Airlangga: Bukan Hanya MSCI yang Menentukan Kredibilitas Pasar Modal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

BRI Perluas Akses Magang Nasional untuk Generasi Muda
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

