Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemerintahan Prabowo-Gibran Percepat Pemerataan Internet Nasional

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran fokus perluas akses internet hingga 98 persen desa, dengan fokus utama pada wilayah 3T dan lelang frekuensi 1,4GHz untuk layanan cepat dan terjangkau.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 17.34 WITA·👁 3 orang membaca· 1 hari ini · 150x dibuka
Pemerintahan Prabowo-Gibran Percepat Pemerataan Internet Nasional📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran telah menunjukkan komitmen kuat dalam memperluas akses internet di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di daerah terpencil. Hingga kini, cakupan layanan digital telah mencapai hampir 98 persen di desa dan kelurahan, menjangkau sekitar 83.000 titik. Meski demikian, masih terdapat sekitar 2.000 desa yang belum terhubung, dengan Papua menjadi wilayah yang paling banyak mengalami blankspot. Upaya pemerataan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mendorong inklusi digital dan pembangunan berkeadilan.

Untuk menangani tantangan tersebut, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus meluncurkan proyek infrastruktur kritis. Beberapa di antaranya adalah pembangunan base transceiver station (BTS) 4G, jaringan serat optik Palapa Ring yang membentang lebih dari 12 ribu kilometer, serta Satelit Republik Indonesia (Satria-1) dengan kapasitas 150 Gbps. Melalui pendekatan ini, telah tercipta akses internet di 6.747 desa, 3.864 titik layanan publik, dan lebih dari 31.000 lokasi strategis di berbagai sektor.

Infrastruktur tersebut dimanfaatkan secara luas, termasuk di sektor pendidikan (68 persen), kesehatan (5,89 persen), pemerintahan (19,9 persen), serta tempat ibadah, pasar tradisional, pos keamanan, dan transportasi publik. Palapa Ring telah melayani 131 titik Network Operation Center (NOC) di 57 kabupaten/kota non-komersial, memperkuat konektivitas di daerah terpencil. Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, menekankan bahwa keberhasilan program bukan hanya diukur dari jumlah infrastruktur, tetapi juga tingkat pemanfaatannya oleh masyarakat.

Capaian ini diperkuat oleh data terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2026, yang mencatat penetrasi internet di Indonesia mencapai 81,76 persen atau sekitar 235 juta jiwa dari total populasi 287 juta. Angka ini menunjukkan kenaikan 6 juta pengguna dibandingkan tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, pemerintah menggelar lelang frekuensi 1,4GHz pada 2025 untuk mendorong layanan broadband murah dan cepat. Hasil lelang dimenangkan oleh MyRepublic dan Surge (WIFI), yang kini mengoperasikan 80 MHz frekuensi di rentang 1432–1512 MHz secara regional selama 10 tahun, memberikan akses internet hingga 100Mbps dengan biaya terjangkau.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya