Minggu, 27 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pengemudi Taksi Afghanistan Teruskan Musik sebagai Bentuk Protes

Sopir taksi di Kabul nekat memutar musik secara sembunyi-sembunyi sebagai bentuk perlawanan terhadap larangan ketat pemerintah Taliban, meski harus berisiko ditangkap di pos pemeriksaan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 27 September 2026, 15.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pengemudi Taksi Afghanistan Teruskan Musik sebagai Bentuk Protes📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah ketatnya aturan yang diberlakukan oleh otoritas Taliban, sejumlah sopir taksi di ibu kota Afghanistan mulai menunjukkan resistensi lewat cara sederhana: memutar musik secara diam-diam di dalam kendaraan. Meski hanya dalam volume rendah, aksi ini menjadi simbol ketidakpuasan terhadap kebijakan yang melarang hiburan publik, termasuk musik, sejak pemerintahan Taliban mengambil alih kekuasaan pada 2021. Musik yang dulu menjadi latar suara sehari-hari di kafe, restoran, dan jalanan kini telah lenyap, digantikan oleh lagu-lagu religius atau nasionalis yang disetujui otoritas.

Salah satu sopir, yang hanya menyebut nama depannya, Roeen, mengungkapkan bahwa ia memutar musik folk dan pop lokal hanya saat tidak ada patroli keamanan. Setiap kali melihat petugas moral berjaga di pos pemeriksaan, ia segera mematikan atau menurunkan volume alat pemutar. “Di setiap perbatasan, kami harus mengurangi suara atau mematikan total, agar tidak berurusan dengan mereka,” ujarnya, menegaskan bahwa rasa takut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia menyebut bahwa kebebasan mendengarkan musik yang dulu begitu biasa kini menjadi tindakan berisiko, bahkan berpotensi memicu penahanan.

Kebijakan ini ditegakkan oleh Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan (PVPV), yang memiliki pasukan moral berpakaian putih panjang dan rutin melakukan pengawasan di seluruh wilayah kota. Aturan resmi menyatakan bahwa musik dilarang karena dianggap mengganggu dan tidak sesuai dengan nilai agama. Meski tak ada informasi resmi mengenai hukuman spesifik, pelanggar diketahui berisiko dipenjara. Seorang pengemudi lain, berusia 32 tahun dan meminta anonimitas, menceritakan pengalaman dihentikan dua kali karena membawa kaset dan memori penyimpanan berisi musik. Alat tersebut kemudian dihancurkan oleh petugas.

Di tengah larangan yang ketat, musik justru menjadi bentuk kecil perlawanan bagi warga. Mahasiswa magister Shamsullah Ahmad, 29 tahun, mengaku selalu memeriksa apakah taksi yang akan ditumpanginya memiliki pemutar musik. Ia memilih mendengarkan di dalam mobil daripada menggunakan headphone, karena petugas kerap memeriksa perangkat pendengar. “Di dalam mobil, meski suaranya pelan, lebih aman daripada tidak sama sekali,” katanya. Baginya, musik bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari identitas budaya yang terancam punah.

Roeen menyebut bahwa minat terhadap musik justru melonjak 10 kali lipat sejak larangan diberlakukan. Ia merindukan masa ketika warga bebas menari, bernyanyi, dan merayakan tanpa takut dihukum. “Kini kota terasa gelap, tanpa cahaya,” tuturnya. Dalam situasi tanpa transportasi umum yang memadai, taksi menjadi sarana utama bergerak di Kabul. Namun, di tengah keterbatasan ini, musik yang diputar secara diam-diam menjadi satu-satunya bentuk kebebasan yang masih bisa dirasakan oleh sebagian warga.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya