Pezeshkian Tegaskan Kebutuhan Kepercayaan Sebelum Pertemuan dengan Trump
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pertemuan dengan Donald Trump sulit terjadi selama AS tetap menerapkan sanksi dan ancaman militer terhadap Teheran.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 17.59 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa dialog langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak dapat dilakukan selama Washington terus mempertahankan tekanan ekonomi dan ancaman keamanan terhadap negaranya. Dalam wawancara eksklusif dengan jurnalis Margaret Brennan, Pezeshkian menyoroti bahwa ketidakpercayaan yang melekat dalam hubungan kedua negara menjadi hambatan utama bagi pelaksanaan pertemuan. Ia menilai bahwa sejumlah perundingan sebelumnya gagal karena komitmen AS yang tidak terwujud dalam tindakan nyata.
Pezeshkian menekankan bahwa selama AS terus memperketat sanksi setiap hari, mengancam serangan, dan tidak mematuhi kesepakatan tertulis, Teheran tidak akan mampu membangun kepercayaan. Ia menyoroti ironi di mana Washington mengajak negosiasi, tetapi tetap mempertahankan kebijakan yang dianggap merugikan Iran. “Jika mereka berbicara, apakah mereka benar-benar akan menepati janji?” tanya Pezeshkian, menunjukkan keraguan terhadap niat AS dalam proses diplomasi.
Menyikapi dinamika ini, Pezeshkian menegaskan bahwa sebelum pertemuan dilangsungkan, harus ada jaminan bahwa kesepakatan yang dihasilkan akan ditegakkan secara konsisten. Ia menekankan perlunya transparansi dan komitmen yang nyata dari pihak AS agar Iran merasa aman untuk berdialog. Tanpa kepercayaan yang kuat, menurutnya, setiap pertemuan hanya akan menjadi formalitas tanpa dampak nyata.
Sebelumnya, Trump menyatakan kesiapan bertemu pejabat Iran saat berada di New York untuk Sidang Majelis Umum PBB ke-81. Namun, meskipun Pezeshkian dan delegasi Iran hadir di kota tersebut, tidak ada kesepakatan pertemuan yang terwujud. Di tengah ketegangan, Iran mengajukan proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz, tetapi hingga kini belum mendapat respons resmi dari Amerika Serikat.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Netanyahu Minta UEA Bantah Laporan Peringatan Serangan Hamas
Perdana Menteri Israel meminta pemimpin UEA menyanggah laporan soal peringatan intelijen sebelum serangan Hamas, demi menjaga citra dan stabilitas hubungan diplomatik.
29 September 2026

Kemantapan Jalan Provinsi di Lampung Utara Capai 93 Persen
Gubernur Lampung menyatakan 93 persen ruas jalan provinsi di Lampung Utara telah dalam kondisi mantap, dengan sisanya menjadi fokus perbaikan tahun depan.
29 September 2026
OpenAI Minta Maaf atas Akses Tak Sah ke Sistem Kesehatan Australia
OpenAI meminta maaf atas insiden akses tanpa izin ke data pemerintah Australia saat pelatihan AI, termasuk sistem Medicare, dan berkomitmen perbaikan keamanan serta dukungan teknis ke lembaga setempat.
29 September 2026

Larangan Penjualan Airbag Online Diperluas di AS
eBay melarang penjualan airbag dan komponen pengembang kantong udara mulai 24 September 2026, menyusul kekhawatiran keselamatan akibat inflator bermasalah yang beredar secara ilegal.
29 September 2026
Berita Lainnya

Netanyahu Siapkan Tuntutan Hukum atas Erdogan
Selasa, 29 September 2026, 17.53 WITA

Belanda Minta Penjelasan soal Cabut Status Diplomat Israel
Selasa, 29 September 2026, 17.53 WITA

Kebijakan Pemimpin Harus Berpihak pada Rakyat
Selasa, 29 September 2026, 17.52 WITA

Saham MNC Group Melonjak Pasca Penerapan Harga Minimum Rp1
Selasa, 29 September 2026, 17.51 WITA

Prabowo Dorong Rehabilitasi Narkoba Atasi Kekurangan Ruang Lapas
Selasa, 29 September 2026, 17.51 WITA

Pertumbuhan Ekonomi 2026 Diproyeksikan 5,4%, HSBC Soroti Ketahanan Domestik
Selasa, 29 September 2026, 17.50 WITA

Xiaomi 17T Pro Hadirkan Kamera Telefoto Premium dengan Kolaborasi Leica
Selasa, 29 September 2026, 17.50 WITA

Komisi II DPR Pilih Panggil Ombudsman Sendiri, Hindari Konflik Lembaga
Selasa, 29 September 2026, 17.50 WITA

